Senin, 22 Juni 2009

Kejujuran Dalam Berbisnis

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang; (yaitu) orang-orang
yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi;
dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mereka
mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya
mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari
(ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam”
(Al Muthaffifin [83]: 1-6).


Ayat di atas mengajarkan makna kejujuran dan dampak dari kecurangan. Tentu saja, bukan hanya Islam, agama lain dan etika bisnis modern menjadikan kejujuran sebagai prinsip dasarnya.
Sedari awal, Allah Swt sudah memperingatkan bahwa manusia memiliki sifat ingin menguntungkan diri sendiri. Dengan demikian, sedari awal Allah Swt sudah memperingatkan jika kecurangan bukan hanya mungkin dilakukan pedagang, pembeli pun bisa melakukannya. Pengertian pedagang dan pembeli pun bukan sekedar dalam pengertian umum, sebagaimana dipahami. Lebih dari itu, dimaknai juga dalam pengertian pelayanan di birokrasi, pelayanan publik atau interaksi mualamah lainnya. Dimana, ada pihak yang dilayani dan melayani. Ketika terjadi kecurangan, ada yang dirugikan ada yang diuntungkan. Islam jelas dan tegas melarang hal itu terjadi.
Bahkan, melalui ayat tersebut, Allah Swt telah memperingatkan bahwa perilaku curang itu akan membawa kepada kecelakaan. Bukan hanya kecelakaan di dunia, tapi juga di akhirat.
Di dunia bsinis, reputasi yang buruk akibat sikap tidak jujur akan membuat orang kehilangan kepercayaan (trust). Padahal, kepercayaan dan imej adalah kunci dalam bisnis saat ini. Marak dan pesatnya bisnis media cetak dan elektronik serta jasa periklanan adalah satu satu buktinya. Imej atau kesan konsumen atas suatu produk menjadi kunci bagaimana produk itu diterima oleh konsumen. Ini juga menyangkut kepercayaan. Jika kejujuran sudah tiada, kepercayaan sudah tiada, maka kerusakan datang bak banjir bandang. Naudzubillah.
Banyak contohnya bagaimana suatu produk yang sedang booming, laku keras, hanya karena isu tertentu, langsung anjlok penjualannya. Bahkan, soal kepercayaan ini, jasa periklanan menjadikannya sebagai tujuan. Sayang, umat Islam tidak bisa menangkapnya dengan cepat maksud lain dari ayat tersebut. Jadi, bukan sekedar kejujuran, namun mampu mengemas kejujuran sebagai suatu jasa yang mampu menggerakkan ekonomi. Mudharabah, musyarakah, wakalah dan kegiatan bermualah lainnya harus didasarkan pada kejujuran. Jadi, kejujuran bukan hanya sebagai sifat, nilai dasar yang harus dimiliki, namun saat ini menjadi kebutuhan dan sifatnya telah menjadi kebutuhan bisnis global di seluruh sektor. Bukankah krisis keuangan di Amerika Serikat yang dampaknya terasa ke Indonesia juga gara-gara hilangnya kejujuran?
Selain kejujuran, hal lain yang membedakan dengan etika bisnis umum adalah adanya janji hari pembalasan. Tentu saja, bagi manusia sekuler atau yang tak yakin adanya kiamat dan hari pembalasan, itu semua hanyalah omong kosong. Namun jika kita lihat, konsep hari pembalasan ada dalam setiap konsep agama-agama besar di dunia ini.
Secara logika, hari pembalasan itu wajib ada, karena mengandung prinsip kausalitas, sebab akibat. Jika kaum sekuler tidak percaya hari pembalasan, mereka lucu, karena hari pembalasan itu niscaya, sebagai bentuk keadilan.
Saya kira, dengan kondisi ekonomi umat yang masih terpuruk secara sosial ekonomi, menengok ulang nilai-nilai Islam dalam praktik bisnis adalah kebutuhan. Secara praktis, bagi seorang muslim, berbisnis harus melandaskan pada kejujuran sehingga aktivitas ekonomi tidak hanya mengarah pada hasil duniawi semata. Di dalam bisnis, terdapat sejumlah usaha untuk mendapatkan keuntungan.
Sebagai muslim, mestinya kita memberikan sumbangsih bagi kemajuan ekonomi umat. Pertama, memperkokoh aspek keislaman sehingga memberikan pondasi
yang kuat untuk membangun integritas moral bagi para pelaku bisnis (karyawan, pengusaha, kaum profesional). Misalnya, dalam setiap praktik bisnis mesti dipenuhi dengan kejujuran, kesederhanaan, dan menjunjung tinggi etika kebenaran. Itulah integritas yang harus di miliki seorang pebisnis muslim.
Kedua, mampu mengembangkan etos kerja yang berorientasi pada kemajuan dan keunggulan kinerja (excellent performance). Pada posisi ini, spiritualitas mestinya mampu dijadikan driving force (kekuatan pendorong) yang kuat untuk menancapkan motivasi dan etos kerja yang selalu mengacu pada prestasi terbaik. Sebuah niat suci untuk selalu menganggap pekerjaan kita sebagai sebuah ibadah dan bentuk pengabdian kita pada Allah Swt.
Ketika kita bekerja di kantor dengan asal-asalan, atau ketika hanya mampu menciptakan pelayanan yang amburadul dan membikin para pelanggan jera dengannya, mestinya kita menanggap ini semua sebagai "dosa" dan merasa malu kepada-Nya.
Sebaliknya, ketika kita selalu bisa mempersembahkan kinerja yang istimewa, atau ketika kita mampu mengagas dan melaksanakan ide-ide kreatif untuk memajukan perusahaan, mestinya tidak melulu didasari keinginan untuk naik pangkat, atau mendapat bonus yang besar, melainkan dilatari oleh niat suci untuk beribadah. Sebuah niat yang didorong oleh kehendak untuk mengabdi dan memuliakan-Nya.
Ketiga, kita mesti mampu membangun apa yang disebut dengan learning organization. Sebab, hampir semua agama mendorong umatnya untuk terus belajar dan menuntut ilmu. Dalam Islam misalnya, ayat pertama yang diturunkan berbunyi iqra' (artinya, bacalah!): merupakan simbolisasi yang menekankan pentingnya proses belajar dan menuntut ilmu bagi kemajuan peradaban manusia. Dengan demikian, upaya membangun “learning culture” di bidang bisnis, adalah upaya mendorong para karyawan untuk terus merengkuh ilmu.
Islam mengajarkan kepemilikan mutlak ada di tangan Allah. Allah menganugerahkan sumber daya alam agar manusia bisa mendayagunakannya. Kerja merupakan unsur utama produksi untuk memenuhi hak hidup, hak keluarga, dan masyarakat guna
mendorong fungsi produksi dalam mengoptimalkan sumberdaya insani. Wallahuálam

Selesaikan Bacanya!......

Senin, 08 Juni 2009

Mengenal Tarekat

Salah satu fenomena keberagamaan yang menarik adalah berkembangnya tarekat di kalangan umat Islam. Bahkan, pengaruhnya sangat kuat. Para politisi pun rela antri datang untuk menjadi murid dan meminta restu. Sebut saja, Habib Luthfi Bin Yahya, sosok ulama kharimatik di Pekalongan, sosok tokoh tarekat yang jumlah muridnya ratusan ribu.
Sebenarnya apa sih tarekat itu? Istilah “tarekat” (thariqah atau al-thariq) secara harfiah berarti “jalan” atau jalur yang ditempuh dengan berjalan kaki. Dari pengertian ini kemudian kata tersebut dipergunakan dalam konotasi makna cara seseorang melakukan pekerjaan, baik terpuji maupun tercela (Shihab, 2001: 171).
Dalam terminologi tasawuf, tarekat adalah perjalanan khusus bagi para sufi yang menempuh jalan menuju ke hadapan Allah SWT. Perjalanannya mengikuti jalur yang ada melalui tahap dan seluk beluknya. Sufi yang tengah melakukan perjalanan disebut pengembara (salik). Dari sini kita dapat mengambil pengertian bahwa tarekat adalah perjalanan para salik yang melangkah untuk membuka hijab dan mendekati realitas ruhaniah (Ali Kianfar dalam Zauqi Shah (ed), 2002: 84). Tarekat digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari syarat, karena jalan utama disebut syar’, sedangkan anak jalan disebut thariq. Salik melakukan perjalanan spiritual melalui tahapan spiritual (maqam) tertentu setelah melalui jalan (thariq), guna mencapai tujuan bersatu dengan-Nya.
Tarekat juga dalam tasawuf adalah hal penting sehingga disebut ilmu suluk. Tarekat itu pada dasarnya tak terbatas jumlahnya, karena setiap “salik” semestinya harus mencari dan merintis jalan (thariq)-nya sendiri, sesuai dengan bakat dan kemampuan atau pun tarap kebersihan hati mereka. Kaum sufi percaya, pendidikan mistik merupakan cabang dari jalan utama (syari’ah). Sedang jalan lain (thariqah) merupakan cabang yang lebih sempit dan lebih sulit dijalani salik (Schimmel, 2000: 123).
Dalam perjalanan spiritual ini, salik akan melalui maqam dan hal. Maqam adalah suatu taraf yang berlangsung terus yang dicapai oleh manusia berkat usahanya sendiri (Schimmel, 2000: 125). Ia adalah hasil dari usaha riyadlah dan mujahadah para salik. Sedangkan hal adalah keadaan spiritual yang turun dari Tuhan ke hati manusia, tanpa dapat ditolak kedatangannya atau dicegah kepergiannya, dengan usahanya sendiri (Schimmel, 2000: 124). Hal merupakan karunia dari-Nya. Di setiap maqam dan hal inilah salik menyingkap (mukasyafah) hijab yang ada di dsalam dirinya. Jika di dalam tasawuf kita kenal ada proses penyingkapan Tuhan, itu terjadi karena salik sudah sampai pada maqam tertinggi, sehingga hijab-hijab yang menghalanginya telah tiada dan ia pun suci.
Meski tarekat beragama jalannya tak terhingga, namun nampaknya secara umum jalan ruhaniah itu dapat diringkas jadi tiga tahap, yaitu: pertama, penyucian hati. Pada penyucian hati, salik harus melakukan dua hal: mawas diri dan menguasai atau mengendalikan nafsu-nafsu. Kemudian, membersihkan hati dari ikatan pengaruh keduniawian (Simuh, 1997: 47).
Kedua, konsentrasi untuk ber-dzikir pada Allah. Pada tahapan ini, kaum sufi tidak memberikan satu detik pun hatinya untuk lalai dari Allah. Bagi kaum sufi, dosa adalah lalai dari usaha ber-dzikir pada Allah. Ada banyak metode yang digunakan kaum sufi dalam ber-dzikir.
Ketiga, fanna’ fillah. Pada tahap ini, kaum sufi telah sampai pada puncak spiritual tertinggi. Di sinilah terdapat perbedaan tajam antara para sufi yang cenderung falsafi dengan yang cenderung “akhlaqi”. Bagi yang menganut faham kesatuan Tuhan (wihdatul wujud), mereka bisa mengalami syukr (mabuk) dan fana’ sehingga ketika berucap mereka sering ber-syathahat. Mereka pun percaya bahwa Tuhan itu ada pada diri manusia, sehingga Tuhan itu immanen sekaligus transenden.
Bagi yang cenderung akhlaqi, kesatuan dengan Tuhan tidak berarti kita bersatu dengan-Nya, tapi merasa Dia bersama kita, sehingga seluruh perilaku kita adalah perilaku-Nya. Tarekat selain dilihat sebagai jalan spiritual, juga mengandung arti sebagai kesatuan persaudaraan kesufian (sufi brother hood) (Madjid, 1995: 110).
Sebagaimana dijelaskan di atas, tarekat adalah jalan spiritual, berarti tarekat adalah bentuk pengalaman individual. Namun, dari pengalaman individu itu kemudian seseorang mengalami publikasi dan itu dialami banyak orang sehingga yang semulanya privacy jadi milik publik. Dari segi sosial dapat kita temukan bahwa tarekat berarti persaudaraan kesufian. Segi sosial tarekat, lahir dari kewajiban dan rasa tanggung jawab untuk mengajar dan membimbing umat. Maka, kita mengenal ada istilah pembimbing spiritual (mursyid) dan salik (murid). Alasan menggunakan mursyid, karena diyakini perjalanan spiritual itu penuh dengan halangan dan godaan, sementara salik baru masuk ke dalam alam spiritual. Maka ia perlu pembimbing yang telah mengetahui dan mengalami jalan ruhani.
Tarekat kemudian berkembang jadi persaudaraan kesufian yang berkembang luas. Secara historis pertumbuhan tarekat sudah dimulai sejak abad ke-3 dan ke-4, seperti al-Malamatiyah yang didirikan Ahmadun Al-Qashar, atau Ta’rifiyah yang mengacu pada Abu Yazid al-Busthami, atau pun al-Khazzajiyah yang mengacu pada Abu Dzaid al-Khazzaz, tarekat-tarekat tersebut dan semacamnya masih dalam bentuk yang amat sederhana dan bersahaja.
Perkembangan dan kemajuan tarekat justru terjadi pada abad ke-6 dan ke-7 H, dan yang pertama kali mendirikan tarekat pada periode tersebut adalah Syeikh Abdul Qadir al-Jailani pada awal abad ke-6 H, kemudian menyusul tarekat-tarekat lainnya. Semua tarekat yang berekembang dalam periode ini merupakan kesinambungan tasawuf Sunni al-Ghazali dan dengan berdirinya berbagai tarekat tasawuf Sunni mengalami tahap perkembangan baru hingga kini (Alwi Shihab, 2001: 172).
Dari pelacakan historis di atas, kita dapat membagi fase historis tahapan perkembangan tarekat ke dalam tiga fase yaitu: pertama, tahap khanqah (pusat pertemuan sufi), di mana syaikh mempunyai sejumlah murid yang hidup bersama-sama di bawah peraturan yang tidak ketat. Hal ini berbeda dengan tahap selanjutnya yaitu: tahap thariqah, yakni pada tahap ini, tasawuf sudah membentuk ajaran-ajaran, peraturan dan metode yang sangat ekslusif.
Selanjutnya adalah tahap tha’ifah, di mana pada fase ini terjadi transmisi ajaran dan peraturan kepada pengikut. Tarekat berkembang pesat hingga belahan dunia yang lainnya, pemujaan kepada syaikh jadi kebiasaan. Tasawuf pada fase ini mengambil bentuk kerakyatan. Sehingga pada fase ini, tarekat memiliki makna lain yaitu organisasi sufi yang melestarikan ajaran syaikh tertentu (Nasution, 1998: 366-367).
Proses perjalanan ruhaniah yang dilakukan di dalam tarekat dimulai dengan pengambilan “bai’at” (sumpah) dari murid (salik) di hadapan syaikh setelah murid menjalani penyucian diri. Setelah mencapai tahapan sempurna, murid akan memperoleh “ijazah” dari mursyid dan setelah itu salik biasanya berhak menjadi mursyid. Dalam tarekat ada tiga ciri umum yaitu: syaikh, murid dan bai’at (Shihab, 20001: 172).
Ototritas mutlak mursyid dalam masalah-masalah spiritual maupun material terhadap murid-muridnya adalah salah satu ciri khas tarekat. Sehingga, dalam tarekat, mursyid lah yang membai’at muridnya. Akibatnya, muncul kultus individu atau “idiolatri” atas mursyid oleh para muridnya. Karena sifatnya yang teratur dan ekslusif serta ajarannya yang khas, tarekat kemudian jadi pseudo religion atau agama dengan struktur ide-ide, praktik-praktik dan organisasinya sendiri yang ekslusif (Rahman, 1984: 217).
Di Indonesia sendiri dikenal beberapa tarekat yang memiliki keterkaitan dengan tarekat yang berasal dari luar Indonesia atau pun tarekat yang lokal. Di antaranya tarekat Qodariyah, Naqsabandiyah, Wahidiyah, Shiddiqiyah, Syahadatain, Tijaniyah, Sanusiyah (Shihab, 2001: 174-175).
Semua yang berkembang itu adalah pendekatan keagamaan. Maka, biarkan lah itu berkembang menjadi pendekatan. Tak harus saling mengakimi siapa yang benar, yakini saja apa yang diyakini, amalkan sebaik mungkin, selesai. Karena kita pun tak tahu, mana yang lebih benar. Wallahu'alam

Selesaikan Bacanya!......

Demokrasi Lahan Subur Tumbuhnya Ekonomi Kreatif

Ekonomi kreatif hanya mungkin tumbuh dalam sistem politik dan masyarakat yang mengakui kebebasan berekspresi. Demokrasi, kalau dipercaya sebagai jalan politik yang mengakui kebebasan berpendapat dan berekspresi sebagai hak asasi, adalah ladang subur semaian ekonomi kreatif.

Lebih lanjut, perlindungan hak kekayaan intelektual menjadi faktor penting yang dibutuhkan untuk merawat tumbuh suburnya ekonomi yang berbasis budaya (baca: ide) tersebut. Kalau pra syarat tersebut tak terpenuhi, yang ada adalah pemalsuan-pemalsuan karya dan kekayaan intelektual seseorang, bukan orisinalitas karya yang lahir. Perlindungannya bukan hanya di level nasional, tapi internasional.
Mengapa perlindungan hak kekayaan intelektual penting? Karena ekonomi kreatif lahir dari gagasan atau ide kreatif banyak orang. Jika tidak dilakukan perlindungan akan menimbulkan sengketa hukum dan sikap prustasi dari manusia-manusia kreatif karena merasa karyanya tak dihargai.
Sebagai negara yang kaya budaya, Indonesia memiliki rekam jejak yang potensial dalam membangun ekonomi kreatif. Karena berekonomi sama artinya dengan menjaga tradisi leluhur, warisan orang tua yang harus dipelihara. Sebagaimana kita temukan dalam ekonomi lokal batik, sepatu Cibaduyut dan karya ekonomi berbasis budaya lokal lainnya..
Meski dengan basis budaya pop dan modern, kelahiran berbagai sektor industri kreatif seperti animasi, komik dan lainnya di Indonesia harus diapresiasi sebagai sentuhan baru dalam ekonomi kreatif. Fakta ini tak bisa ditolak seiring dengan semakin canggihnya teknologi.
Bagi saya, karya ekonomi berbasis budaya lokal yang sifatnya turun temurun dan yang lahir dari tangan anak muda kreatif dengan basis teknologi canggih tak harus dipertentangkan. Walaupun tidak ada garis batas yang jelas, pada dasarnya kreativitas yang muncul dapat dipisah menjadi dua hal pokok, yakni kreativitas berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge based) dan kreativitas berbasis seni (artistic based).
Menurut Departemen Perdagangan, tahun 2006, sekitar 1,5 juta usaha kecil dan menengah kreatif Indonesia menyerap 4,5 juta tenaga kerja dan menyumbang 7.8 persen terhadap PDB. Fakta ini menunjukkan betapa akan membesarnya ekonomi kreatif jika dikelola dengan baik melalu kebijakan yang tepat.
Agar memilik nilai lebih (added value), terpasarkan dengan baik, menyerap tenaga kerja dengan sangat besar, menghasilkan pendapatan bagi negara dari pajak dan retribusi serta memberi multiplayer effect bagi masyarakat sekitar lah, perlu dilakukan industrialisasi atas ekonomi kreatif. Itu lah yang disebut industri kreatif. Kalau proses industrialisasi dilakukan, suntikan modal mutlak dilakukan karena umumnya sektor ini masih merupakan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Sektor ini mampu bertahan karena dirasa menjadi bagian dari hidup, warisan orang tua yang harus dijaga. Jangan aneh jika banyak sekali sektor usaha ekonomi kreatif di daerah yang tidak disentuh kebijakan pemerintah, akhirnya mati.

Membangun Manusia Kreatif
Di atas itu semua, faktor manusia sebagai produsen ide kreatif lah yang menjadi panglima tumbuh atau tidaknya industri kreatif. Menurut hemat saya, kreativitas adalah landasan setiap industri apa pun. Apabila kita telaah, pergeseran yang terjadi secara global dari era agro, industri, informasi, dan sekarang era ekonomi kreatif terlihat adanya pergeseran dunia ke suatu parameter yang lebih mendasar secara vertikal dan bukan sekadar menciptakan sektor baru.
Perusahaan air kemas mineral umpamanya, memerlukan sumber daya kreatif
karena tidak bisa melepaskan diri dari perkembangan teknologi informasi. Perusahaan ini harus merekrut tenaga kerja kreatif agar apa yang diproduksinya laku di pasaran. Jadilah industri jasa iklan tumbuh besar. Tim kreatif suatu perusahaan menjadi penentu hidup atau tidaknya perusahaan itu. Terjadilah pergeseran ke konsep human capital. Dimana, karyawan pun dinilai sebagai aset berharga, bukan sekedar bagian dari faktor produksi yang sama dengan mesin, modal dan lahan.

Membangun Kota Kreatif

Kita punya Bali yang menjadi tujuan wisata internasional. Dalam berbagai perjalan saya ke berbagai kota di Indonesia dan negara lain, industri kreatif menjadi pilihan dan tumbuh subur ketika pariwisata menjadi primadona.
Di Bandung misalnya, kita akan melihat pertumbuhan industri kreatif ini seperti home industry, percetakan, penerbitan, factory outlet, distro, dan sektor yang memanfaatkan jasa. Bandung dan Jawa Barat, umumnya Indonesia, berpotensi menjadi tempat industri kreatif besar di dunia berkat kekayaan alam, keragaman budaya, serta kemampuan manufaktur dan home industri.
Tidaklah mengherankan apabila Indonesia merupakan satu-satunya negara Asia yang pernah menjuarai beberapa kali ajang bergengsi British Council International Young Creative Entrepreneur (IYCE) Award di Inggris. Yang menarik disimak, wakil nasional untuk IYCE Design Award (arsitek Ridwan Kamil dan pemimpin komunitas kreatif Gustaff Iskandar tahun 2006 dan 2007) berasal dari Bandung. Pada tahun 2008 juga, tercatat beberapa wakil yang berasal dari daerah Bandung (Irfan Amalee).
Jadi, tidaklah salah kalau saya menyebut Bandung sebagai salah satu kota kreatif di Indonesia yang akan menjadi penggerak sektor ekonomi kreatif. Seperti yang pernah dibibicarakan Jacoeb Oetama, ketika seseorang bergelut di industri dan ekonomi kreatif, dia tidak akan merasa resah dari pemutusan hubungan kerja. Selama masih memiliki otak dan pikiran, selama itu pula dia akan bertahan di dunia kerja.
Sebab, industri kreatif mengandalkan ide dan gagasan kreatif yang akan lahir selama seseorang mampu menelurkan gagasan-gagasan kreatif dan imajinatif.
Bahkan teman saya – lebih tepatnya kader saya semasa aktif di organisasi kemahasiswaan – setelah selesai kuliah menggantungkan hidupnya dari aktivitas jula-beli gagasan kreatif. Dengan menjadi tenaga lepas di sebuah penerbitan dan kadang menulis buku Agama popular, ia sudah mampu menghidupi dirinya. Ia telah menjadi warga yang mandiri disebabkan memiliki gagasan kreatif. Meskipun secara formal dia tidak terikat oleh sebuah perusahaan atau tidak menjadi pekerja formal di salah satu industri, toh dapat menghasilkan uang dari atraksi kreativitas yang memukau. Wallahua’lam



Selesaikan Bacanya!......

Senin, 06 April 2009

Ayahku, Idolaku

Saya bersyukur kepada Allah, dilahirkan dari keluarga yang taat beragama tapi tidak panatik dengan khilafiah yang berkembang. Walau ayah bukan kiai/ ustadz, tapi beliau sangat taat dalam ibadah. Kebiasaan kami, jika jam 2 dini hari mendengar suara zikir ayah, sampai subuh tiba.

Ayah ditunjuk sebagai Ketua DKM pun sudah puluhan tahun. Demikian dengan ibu, ketua majelis taklim. Tak ada yang mau menggantikannya, walau ayah selalu mempersilahkan kepada siapapun menggantikannya. Kata ayah, sudah saatnya yang muda yang memimpin. Tapi ya itu, di kampung kami, setiap ada acara keagamaan, pembangunan masjid dan madrasah, melalui komunikasi ayah lah para donatur dari luar kampung, banyak membantu. Karena kata ayah, menunggu infaq dari warga akan sangat tidak mungkin. Bahkan tak jarang kami lah yang turun tangan membantu menyiapkan dana, utamanya kakak kami yang di Lippo Karawaci, yang memang secara ekonomi hidupnya sudah berkecukupan.
Bagi saya, ayah adalah idola dalam setiap hal. Kesabarannya dalam hidup, melewati masa-masa sulit, demi membiayai sekolah anak-anaknya, beliau tampak tangguh dan tawakal.
Dalam kehidupan sosial, sewaktu beliau belum terkena strooke, beliau lah yang selalu terdepan membantu masyarakat yang membutuhkan. Ke rumah sakit, membantu rumah warga jompo dan miskin yang sudah sangat rusak, membantu yang sakit, dan berbagai amal sosial, dia lah yang selalu pasang badan.
Tak jarang, kami harus berbagi beras dengan tetangga yang membutuhkan. Ayah selalu mengembalikan haknya sebagai amilin zakat atau panitia kurban untuk dibagikan kepada yang lebih berhak. Bahkan, ayah tak segan datang ke rumah panitia untuk menyerahkan bantuan, padahal, beliau dituakan. Beliau mau melayani tanpa pamrih.
Beliau sangat kami cintai dan kagumi. Walau hanya lulusan SD, bagi saya beliau lebih bijak dibandingkan mereka yang doktor sekalipun. Ilmu hidupnya lah yang memberi saya jalan sampai sekarang ini. Ilmu nya bukan ilmu omong, tapi teladan.
Beliau tidak pernah marah jika anaknya belum shalat. Tapi, sebagai anak yang setiap hari melihat bagaimana taatnya beliau shalat, shaum, shalat sunah dan shalat malam, kami tentu diberikan contoh yang baik tentang bagaimana hidup beragama.
Kami hidup sederhana. Ayah hanyalah pegawai negeri golongan II B ketika pensiun tiga tahun lalu. Tapi kecintaannya kepada pendidikan membuat semua anaknya sarjana. Bahkan, setiap kali saya pulang, selain menanyakan kesehatan saya, istri dan cucunya, pertanyaan selanjutnya adalah soal sekolah ku. Jangan lupa S-2 dan S-3 nya ya, segera selesaikan.
Begitulah ayah yang sewaktu aku masih usia 5-6 tahun, selalu menggendongku waktu pulang dari memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Aku ingat betul, sering tertidur atau kelelahan ketika ayah sedang berceramah kepada ibu-ibu atau bapak-bapak mengenai pentingnya hidup sehat, bersih, rukun. Beliau selalu menyitir ayat Al-Quran atau hadits.
Kami pulang larut, tak ada kendaraan melewati jalan rusak dan hutan. Tapi ayah selalu pulang karena ingat ibu dan kakak ku yang ada di rumah kami yang tidak lah besar. Kami jalan kami dengan menggunakan colen (obor-red). Ayah selalu pulang dan dia dikenal sosok yang pemberani. Aku digendongnya dengan penuh kasih sayang.
Kebanggaan ku akan ayah semakin menguat. Aku bangga karena ayah dikenal dan dihormati warga. Beliau lah yang selalu melerai dan dimintai pendapat ketika ada konflik atau perkelahian. Bahkan, rumah kami dari dulu tempat kumpulnya anak muda yang dengan bebasnya mereka makan di rumah. Ayah tidak pernah mengeluh, ayah selalu mengingatkan kami untuk selalu berbagi dan berbuat baik kepada siapapun, hatta kepada orang yang menyakiti kita sekalipun.
Gaji kecil, anak banyak dan semuanya sekolah membuat ayah dan ibu baru punya rumah yang cukup permanen setelah saya bekerja. Alhamdulillah, semua kebun dan sawah yang dulu sempat dijual sudah bisa dibeli oleh kami. Demikian juga dengan kebun dan sawah yang dulu digadaikan, sudah kami tebus. Bahkan, telah kami beli lagi beberapa petak sawah dan kebun. Aku sampaikan ke ayah dan ibu, ini dibeli agar anak cucu keturunannya tidak lupa kampung halaman, di sebuah desa jauh di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi sana.Biar anak cucunya tahu, bahwa ayah, nenek kakek, buyutnya adalah orang kampung.
Ayah tidak pernah meminta adik ku dan kakak ku yang perempuan untuk berjilbab. Tapi menjelang usia 20, kakak ku yang perempuan berjilbab. Demikian juga dengan adik bungsu ku yang kini sedang kuliah dan ikut dengan kami di bandung, dengan kesadaran mereka, harus menutup aurat. Tidak ada paksaan, tapi kesadaran. Yang penting, selalu menjaga aurat dan masih di batas-batas kesopanan, begitu kata ayah dalam suatu obrolan dengan kami.
Dalam hal ekonomi, dia anti ijon, tapi tidak pernah secara keras menolak ijon. Dia anti renternir, tapi tidak pernah menolak keras dan berbicara kepada banyak orang, karena memang banyak tetangga yang menjadi pengijon dan renternir. Sikap menolaknya diaplikasikan dengan sikap membantu sesama. Meminjamkan uang tanpa harus ada bunga. Bahkan, bi Encih, utangnya Rp 400 ribu pun sudah ayah anggap lunas karena, tiga hari lalu meninggal dunia, akibat sakit. Bahkan ayah mengingatkan saya untuk menyisihkan rezeki membiayai sekolah anak bi Encih yang kini yatim piatu. Ayah dan ibu pun kini punya anak asuh yang sedang dibantu sekolah dan punya warga binaan yang diberikan bantuan modal usaha. Ayah tidak kaya, tapi menurutku, jiwanya kaya dan aku sangat mencintai ayah dan ibu.
Dalam hal politik, ayah tidak pernah terbuka mendukung siapa, partai mana. Ini semata-mata ia lakukan agar semuanya merasa mendapatkan dukungan ayah. Kemarin saja, banyak sekali caleg dan tokoh partai yang datang dan memohon dukungan. Kepada semuanya ayah memberikan dukungan, tanpa pamrih. Kata ayah, berbuat baiklah dan tanamlah budi baik sebanyak-banyaknya, maka buah kebaikan akan kita petik, sekarang ataupun nanti.
Selamat ulang tahun ayah, ayah kini sudah berusia 70 tahun. Kalau dari KTPnya, udah berusia 68 tahun. Kata ayah, dulu menghitung umur cukup dengan mengira-ngira saja.
Ayah dan ibuku adalah lembar kehidupan yang penuh teladan. Hidupku belajar kepada mereka tentang hidup yang sejati, meraih bahagia dunia dan akhirat. Ayah dan Ibu, biarlah kami melayani dan membahagiakanmu. Semga rahmat Allah selalu bersama keluarga kita. Amin.

Jl. Cibiru Indah VII, Bandung



Selesaikan Bacanya!......

Kamis, 02 April 2009

Rindu Ka'bah

Jika saja Ka'bah dekat, mungkin aku tiap saat shalat di dekatnya. Sayang, Ka'bah ada di Makkatal Mukarramah. Aku rindu Ka'bah dan selalu hatiku seakan didekatnya. Semoga Allah segera mengundangku melaksanakan ibadah umrah dan haji.

Allah Swt telah memberi anugerah teramat besar bagi kota Makkah dan Madinah, karena hingga akhir zaman, tiap tahunnya ada ratusan triliun dana yang masuk dari kegiatan umrah dan haji. Bahkan ritual ibadah itu pun memberikan multiplayer effect kepada seluruh negara yang ada penduduk muslim. Biro perjalanan haji dan umrah serta aksesoris yang terkait dengan kegiatan ibadah haji dan umrah menjadi dagangan yang laris manis.
Itu baru dari sisi ekonomi. Belum lagi sisi politik, sosial dan ekonomi. Demikian lah berkah itu terus bertambah dan bertambah. Tak akan habis hingga akhir zaman nanti. Karena itu, rindukan lah Ka'bah. Tapi jangan berhalakan Ka'bah.
Merindukannya artinya ingin hidup selalu di bawah naungan ridla Allah Swt, titik. Tak ada yang diinginkan selain itu. Karena dengan niat seperti itu, hidup ini terasa menyenangkan, membahagiakan dan menentramkan.
Apa yang kita cari? Bukan kah kebahagiaan? Doa kita disetiap usai shalat selalu berulang meminta agar di dunia menjadi hasanah dan di akhirat menjadi hasanah, tapi mengapa kita menjauhinya, mengingkari doa itu. Naudzubillah.
Menipu, gila harta dan jabatan, sek bebas, mabuk-mabukan, korupsi, menghina orang, berprilaku tidak sepatutnya, meninggalkan ibadah. Semoga Allah menjauhkan kita dari segala perbuatan yang membuat-Nya murka.
Sebagai intelektual, atasnama kritik atas agama kita mengkritisi sesuatu yang menurut Filosof Iran Muhammad Baqir Shadr sebagai sesuatu yang tashdiq, benar adanya dan tak perlu dipertanyakan lagi karena hanya akan mendatangkan kesia-siaan.
Tuhan pun digugat, dikritik lalu shalat sebagai ibadah dianggap sebagai kesia-siaan. Naudzubillah. Bahkan dengan bangganya menggunakan aksesoris agama lain, meneriakkan kebebasan beragama, padahal sejatinya kita ini membutuhkan agama dan seharusnya beragama. Karena itu tentu ada banyak perintah agama yang harus dilaksanakan. Atas nama kebebasan beragama juga memakai purdah dianggap pengkerangkengan kepada kebebasan beragama. Padahal Allah Swt sudah jelas memerintahkan untuk menutup aurat.
Sekedar aurat pun diperdebatkan dan kita pun menjadi dungu. Bangga karena telah menjadi juru bicara kepentingan asing di negeri yang mayoritas penduduknya muslim. Lalu menjadi juru bicara kebebasan beragama. Doku pun jadi penuh karena dollar mulai masuk ke kantong dari berbagai proyek atasnama kebebasan beragama, demokrasi, kesetaraan jender dan yang lainnya.
Sekedar soal peran istri, perempuan dan suami (laki-laki) pun diperdebatkan. Padahal soal itu adalah soal karakter yang apabila semuanya dibangun dengan komunikasi yang baik tidak ada masalah.
Sekedar demokrasi aja menjadi isu menarik. Padahal atasnama demokrasi juga Indonesia hingga kini belum sejahtera. Demokrasi hanya cara, alat untuk mencapai kesejahteraan bersama.
Kita dungu, lupa tujuan dan sekedar menyenangi pesta. Lupa tujuan sesungguhnya dan lebih senang dengan berbagai kampulase, keramaian, pesta dan berbagai aksesoris yang sesungguhnya sekedar aksiden, bukan esensi.
Sementara, pada hal kecil pun masih lupa. Kebersihan misalnya. Apakah lingkungan kita telah bersih. Bukan sekedar iman tentu, kesehatan, kenyamanan dan keindahan akan sangat tertata kalau sudah bersih.
Ekonomi umat bagaimana? Kita akhirnya hanya sibuk seminar. Sementara renternir yang lahir dari umat itu sendiri berjumlah sangat banyak. Ramai, riuhrendah dan menguasai ekonomi umat. Lihat Mang Udin yang harus menggigit jari ketika panen tiba padahal dia taksir hasil panennya lebih dari membayar utang karena sebelumnya sudah berutang.
Bi Encih, pedagang ikan di kampung saya, Cisolok Sukabumi, sampai mencium kaki ibu dan bapak karena sudah dua tahun berdagang tak mendapatkan apa-apa selain harus membayar utang. Siapa renternir itu? Mereka umat Islam, demikian juga perusahaannya. Sementara, oleh Bapak dan Ibu diberikan pinjaman uang lebih dari cukup tanpa bunga dan diwajibkan membayar tiap hari, dengan cara menabung sampai jumlah utang pokoknya selesai. Bapak pun mengingatkan, uang itu ditabung di sekolah anak Bi Encih, agar tetap bisa menabung dan jika sudah cukup bisa melunasi utang dan jika tetap mau, bisa meminjam lagi dengan jumlah yang lebih besar.
Edi, saudara saya sekampung hampir saja berhenti sekolah karena tidak mampu membayar SPP. Beruntung ada seorang sahabat saya yang tak kaya-kaya amat, tapi punya hati mulia. Mungkin dia adalah sosok yang kaya hati.
Rizki yang diperoleh sahabat itu sepertinya sudah dia atur agar cukup untuk keluarganya, bisa menabung dan membantu saudara-saudaranya yang membutuhkan.
Suatu hari, kami pun berbincang. Menurutnya, jika aku memiliki uang Rp 100 ribu, rasanya cukup bagi kami Rp 50.000 untuk dikonsumsi, 20 ribu untuk ditabung dan 30 ribu untuk disedekahkan.
Allahu Akbar, Subhanallah. Begitu mulianya sahabat ini. Tetangga dan saudaranya sangat hormat dan sayang padanya. Bagaimana tidak, 30 persen hartanya dia berikan untuk saudaranya yang membutuhkan. Alhamdulillah, aku bersyukur ternyata masih banyak saudara ku yang berpikir seperti ini.
Dia tidak ingin terlihat kaya, mewah. Cukup lah motor baginya untuk bergerak kemana-mana. Atau menggunakan angkutan umum saja. Tapi kalau ada permintaan sumbangan untuk kepentingan umum, dibandingkan mereka yang kaya raya, dia selalu terbesar, terdepan.
"Yang saya cari dan inginkan adalah kebahagiaan, bukan harta benda melimpah tapi kita kikir. Saya berlindung kepada Allah dari godaan harta yang membuat saya silau dengan dunia. Ketahuilah, berbagi menerangkan hati." Kata sahabat tersebut suatu ketika.
Kemiskinan dan pendidikan adalah problem utama umat Islam. Mengapa tidak perhatian kita dicurahkan untuk persoalan tersebut. Keilmuan, program dan aksi nyata hendaknya diarahkan untuk itu.
Mengapa kita tidak menggugat persoalan keuamatan dan kebangsaan yang nyata di depan mata. Malah sibuk dengan ragam wacana yang tak jelas juntrungannya hanya karena sekedar hendak mendapatkan rupiah atau dollar dari donor asing atasnama proyek. Naudzubillah. Itu bukan proyek, tapi jalan menuju neraka. Bukan kah itu pengkhianatan intelektual. Bukan kah itu hegemoni dan penjajahan baru.
Kini soal nyata itu bernama ekonomi dan pendidikan dan seluruh energi kita harus menyatu untuk itu. Karena itu, jadikahlah hidup kita penuh manfaat bukan menambah madharat. Biarkan lah Ka'bah ada dihatimu, seperti cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Sehingga tak ada waktu untuk kita sekedar membuang waktu dan menumpuk kesenangan duniawi semata. Tetaplah seimbang agar di dunia bahagia, di akhirat juga. Amin. Semoga

Graha Pena, 2 April 2009



Selesaikan Bacanya!......

Pengelola

Foto saya
Pewarta di Jawa Pos Group, staf pengajar filsafat di UIN Bandung, dan Aktivis di Muhammadiyah. Asli urang Sukabumi dan menyelesaikan studi S2 Ekonomi Syariah di Universitas Indonesia (UI) tahun 2010. Alumni Jurusan Aqidah Filsafat UIN Bandung ini yakin bahwa berbagi kasih adalah misi suci setiap agama di muka bumi. Berbagi tidak mengurangi milik kita, tapi akan menambahkannya, sebagaimana janji-Nya.