Tidak ada kata gagal dalam hidup ini. Yang ada adalah sukses tertunda. Jadi, jika kita menginginkan, merencanakan suatu hal, hasilnya tidak maksimal, atau tidak tercapai, ya jangan sedih dong, anggap saja permainan. Hidup adalah proses panjang seperti, jatuh bangun dan harus selalu dinikmati, diterima apa adanya ketika usaha maksimal telah dilakukan.
Teruslah mencoba dan mencoba. Jangan menyerah kalah, terus lah berusaha. Seribu kali mencoba, tapi belum tercapai apa yang diinginkan bukan berarti gagal loh. Tak usah minder, apalagi putus asa. Semuanya butuh proses dan jangan pernah merasa gagal.
Merasa gagal, putus asa, menyerah sebelum bertanding adalah sikap mental yang harus dijauhi. Itu penyakit gagal yang ada dalam diri kita. Jauhi lah, karena selain tidak disukai oleh sahabat, saudara, keluarga, juga sesungguhnya tidak disukai oleh mereka yang punya sikap mental yang kuat, tangguh, pejuang sejati.
Penyakit itu sangat tidak disukai karena hanya membuat musibah itu datang terus menerus. Karena itu, bagi Anda yang saat ini masih menganggur, terus menerus lah berusaha. Tingkatkan keterampilan, terus mengajukan lamaran, terus bertanya dan mencari informasi, terus dan terus berusaha.
Kesabaran kita mengikuti semua proses adalah modal utama. Sikap minder, jauhilah. Ini soal proses yang harus dilalui. Ini lah permainan hidup yang harus dijalani. Mainkanlah dengan gairah, rasa bahagia dan minat yang besar, maka kesuksesan pun akan menjemput kita.
Dalam permainan, kadang ada kalah dan menang. Jadi biasa saja tuh kalau kalah. Menang tidak berarti kita menjadi sombong, apalagi lupa diri. Karena akan tiba saatnya kekalahan itu menghampiri. Tersenyumlah saat kalah, tersenyum pula lah ketika menang.
Masih banyak permainan, masih ada saat menang. Coba, ingatlah selalu saat kita menang. Ingat, syukuri dan rayakan selalu kemenangan itu. Dan hapuskan lah kesedihan ketika kalah dengan rasa syukur dan bahagia saat menang dan mengenang kemenangan itu. Tumbuhkan kekuatan terus untuk menang kembali dan bangkit.
Ingatlah, kemenangan kita ditunggu banyak orang. Ditunggu oleh mereka yang selama ini selalu dibantu, disantuni dan dikasihi kita. Jadi, jangan biarkan kesedihan ketika kalah itu menghantui kita terus hingga kita melupakan bahwa lebih banyak menangnya dibandingkan kalahnya.
Atau bila pun kini kita merasa, kalah terus menerus. Ingat lah, ada satu atau dua kali kita menang. Kuatkan memori bahagia itu dan bangkitkan semangat untuk menang. Bukan untuk kemenangan diri kita semata, tapi untuk kemenangan bagi banyak orang. Jangan sedih menganggur karena tidak punya penghasilan dan jauh dari kesejahteraan. Tapi sedihlah kita menganggur karena ada banyak anak yatim dan keluarga tidak mampu yang menunggu uluran tangan kita. Karena itu, kita harus terus bekerja dan bekerja. Seperti yang selalu disampaikan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno, pokoknya harus kerja (PHK). Percayalah, kekalahan dan kemenangan hanya soal waktu dan kesiapan menerimanya.
Rasa menang dan kalah adalah persepsi. Penerimaan akan kondisi diri dan mengukur kemampuan menjadi penting. Karena pada saat kalah, jangan-jangan target yang ditetapkan sangat tinggi, padahal ukuran normalnya tidak memungkinkan untuk mencapai target itu.
Kemampuan normal kita hanya 50, rasional kalau kita tetapkan target 70, tapi ajaib jika mampu mencapai 90 atau 100. Jadi, jika kita tetapkan targetkan 80 atau 90, jangan-jangan kita memang belum saatnya untuk mencapai target 80.
Kok yang lain bisa? Padahal mereka dinilai di bawah kita. Di sinilah diperlukan sikap menghormati dan apresiatif terhadap kemampuan orang lain, hatta orang itu sepintas sepertinya tidak ada apa-apanya. Menyepelekan orang lain dan menginginkan dihormati dan dilayani adalah fakta bahwa diri kita tak punya harga diri. Sebaliknya, sikap rendah hati dan selalu siap melayani menunjukkan kita adalah pribadi yang unggul, punya harga diri tinggi.
Hormati lah orang sekeliling dan pastikan mereka terlayani dan diambil energi positifnya. Dengan demikian, kapasitas kita akan meningkat dan terus meningkat. Karena dalam diri kita terkumpul kapasitas banyak orang. Ini lah pentingnya menjaga hubungan baik dengan semua orang atau dalam Islam disebut silaturrahmi. Ada hal-hal yang kita sendiri tak mampu, orang lain mampu dan ketika kebutuhan dan tuntutan itu tiba, kita tetap bisa mengatasinya.
Evaluasilah kemampuan kita dan teruslah meningkatkan kapasitas kita. Karena dengan demikian kita akan tahu, kemampuan kita yang sesungguhnya dan menetapkan target dengan rasional.
Jadi, jangan iri jika saudara kita atau kawan ada yang lebih hebat padahal usianya, pendidikan atau apanya orang itu di bawah kita. Justru ambillah energi positifnya. Jika saat ini saudara kita sudah bekerja dengan enak, gajinya besar, jangan minder dan menjauhinya. Belajar lah dan minta tolonglah kepada orang itu, siapa tahu, berkat pertolongan, informasi orang itu, kita bisa cepat mendapatkan pekerjaan.
Dengan demikian, jagalah hubungan baik dengan semua orang. Jangan segan dan merasa rendah diri jika harus meminta maaf ketika ada kesalahan walau pun kepada staf atau saudara yang usianya di bawah kita sekalipun.
Jangan pernah kurangi energi kemenangan kita dengan bersikap arogan, sombong dan tidak menghormati orang lain. Justru kumpulkan lah energi kemenangan kita berlipat ganda.
Melipatgandakan kekuatan hanya mungkin dengan memelihara hubungan dan kebaikan dengan banyak orang. Mereka yang terus menerus menang dalam kehidupannya karena selalu mampu melipatgandakan kekuatan dengan melibatkan partisipasi besar dari banyak orang karena kebaikannya kepada orang banyak.
Jadi, evaluasilah, jangan-jangan kita kalah karena tidak banyak orang yang melibatkan dirinya dalam proyek hidup kita. Karena hanya kita saja yang bermain dan akhirnya kekalahan terus menerus diderita. Satu orang musuh sangat banyak, seribu orang kawan sangat sedikit.
Berpikir lah positif, bahwa kemenangan akan segera datang. Berpikirlah kritis, jangan-jangan, tidak banyak orang yang mau berpartisipasi dalam permainan kita, akhirnya kemenangan sulit diraih. Satukanlah kekuatan, untai dan rajutlah kekuatan bersama banyak orang. Tersenyumlah bersama dan raihlah kemenangan terus menerus. Semoga.
Selesaikan Bacanya!......
Tampilkan postingan dengan label Way of Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Way of Life. Tampilkan semua postingan
Senin, 02 Maret 2009
Rabu, 18 Februari 2009
Selalu Ada Harapan
Harapan itu selalu ada, selama kita menginginkannya. Jika tidak menginginkannya, maka harapan itu tidak akan menghampiri kita. Semakin dia didekati, dijemput dan diinginkan, maka harapan itu akan mendekati kita lebih cepat, lebih besar dan bahkan ribuan kali lebih besar dari yang kita inginkan. Karena itu, jangan pernah bunuh harapan itu atau kita akan kehilangannya. Kehilangannya artinya putus asa. Tuhan membenci orang yang berputus asa.
Ketahuilah, harapan bukanlah sesuatu yang antah berantah, jauh di sana atau ada pada diri orang lain. Harapan itu ada dalam diri Anda, sesungguhnya kekuatan diri yang harus dijaga, dirawat dan dipelihara. Cara menjaga dan memeliharanya adalah dengan terus menerus melihat, menyadarkan diri Anda bahwa banyak sisi kelebihan yang Anda miliki.
Jika Anda dinilai banyak orang bodoh, prestasi di sekolah buruk, itu bukan berarti Anda tidak punya harapan untuk sukses. Bodoh dan nilai buruk di sekolah hanyalah ukuran IQ (kecerdasan intelektual). Bukankah mungkin kita punya kecerdasan yang lebih besar lagi yaitu kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Albert Einstein, fisikawan terkemuka abad 20 bukanlah mahasiswa cerdas, tapi dia mampu menggegerkan dunia, dengan temuannya, dan membuat banyak negara membuat bom atom.
Ayo pelajari apa yang menjadi kelebihan Anda. Bagaimana mungkin tahu, kalau saya ada kelebihan? Pertanyaan umum yang sering saya dapatkan dari kawan atau audiens. Gampang aja itu. Ingat-ingat lah terus apa yang menjadi kebanggaan Anda, membuat orang memuji Anda dengan jujur (saya sebutkan dengan jujur, karena tak sedikit mereka memuji kita hanya untuk menjilat saja), membuat Anda berprestasi, membuat Anda merasa paling hebat, dan memang itu lah kelebihan kita.
Soal memuji, sebaiknya jika Anda punya anak buah, tentunya bukan dari anak buah, karena kalau anak buah memuji Anda, itu sudah lumrah. Jika kekasih, suami atau istri Anda memuji, itu sudah lumrah. Temukan banyak pujian dari banyak orang, tapi Anda sendiri, kalau tidak diberitahu oleh kawan atau saudara Anda sebenarnya tidak tahu. Itu lah salah satu pujian jujur.
Saudaraku, bila kita punya sahabat, kawan atau mungkin dia adalah pesaing kita, mengakui dengan jujur akan kehebatan sahabat atau pesaing kita bukanlah pekerjaan mudah. Perlu kekuatan mental dan kekokohan sikap yang gentle untuk itu semua.
Tapi, hati-hatilah, jangan sampai Anda menjadi orang yang selalu ingin dipuji, atau gede rumangsa (geer). Karena sesungguhnya, harga diri Anda itu rendah. Orang yang selalu rendah hati dan mau melayani adalah orang yang punya pribadi dan harga diri unggul, sebaliknya orang yang selalu ingin dipuji dan dihargai hanyalah orang kerdil yang kehilangan legitimasi dan berusaha mencarinya walau dengan menggadaikan harga diri itu.
Jika kita punya keterampilan musik atau kerajinan, mengapa tidak itu yang dikembangkan. Mengapa tidak itu bisa menjadi kekuatan kita untuk meraih rezeki yang halal dan baik. Jika kita punya keterampilan bermain musik, mengapa tidak itu dimaksimalkan untuk menjadi cara kita mencari nafkah dan seterusnya. Jangan pernah kehilangan akal dan semangat untuk berusaha, berusaha dan terus berusaha, karena harapan itu selalu ada.
Jika kita punya kelebihan, dan karena itu orang dekat atau tetangga membutuhkan kita, mengapa tidak itu ditekuni dan menjadi kelebihan kita dibandingkan orang lain. Ditekuni artinya terus belajar, terus menerus sehingga kemampuan kita atau keterampilan tersebut terus meningkat.
Sumber energi dari harapan bernama semangat. Semangat tidak lahir dari otak yang cerdas secara intelektual saja. Semangat adalah api yang selalu membakar jiwa untuk menggerakkan tubuh, yang sesungguhnya tak bisa bergerak jika tidak ada perintah jiwa, untuk menjaganya dan membangun semangat lebih tinggi, membutuhkan "BBM" yang terus menerus menjaga api semangat tetap nyala dan bertambah besar.
Karena itu, bukan sekedar kecerdasan intelektual, tapi juga kecerdasaran emosional dan spiritual yang dibutuhkan. Sebagai kekuatan dalam diri, ketiga aspek kecerdasan itu harus terus diasah.
Semangat itu lahir dari jiwa yang selalu optimis melihat sesuatu. Kenapa demikian? Karena manusia yang penuh semangat selalu melihat rintangan sebagai tantangan, gangguan sebagai ujian, cobaan sebagai media untuk belajar.
Di sinilah pentingnya persepsi dan keyakinan bahwa segalanya selalu ada jalan keluar untuk mengatasinya. Selama kita fokus, lalu berusaha untuk mempelajarinya, mencari solusi dengan tekun dan mental tak mudah kalah, pasti akan ada jalan dan solusi. Cikaracak Ninggang Batu, Laun-laun jadi legok (titik air yang tiap hari mengenai batu sekeras apapun, lama-lama batu itu menjadi rapuh). Artinya jika ditekuni, sesuatu itu pasti akan dikuasai.
Sikap mental yang ulet dan membaja dalam menekuni sesuatu adalah kekuatan yang tak tertandingi dan modal untuk meraih sukses. Karena itu, jangan selalu silau dengan kehebatan orang lain, bingung bahkan iri dengan kesuksesan tetangga, kawan atau saudara.
Kesuksesan dan kebahagiaan adalah milik semua umat manusia, tak terkecuali. Hewan dan tumbuhan sekalipun, jika mampu berbicara dalam bahasa manusia, tentu saja akan bercerita bahwa mereka mendapatkan kebahagiaan karena demikianlah, alam telah diatur sedemikian harmonis oleh Tuhan. Keseimbangan alam harus dijaga, karena melawannya akan mengganggu keseimbangan itu. Jika terjadi longsor, kebakaran atau banjir, itu karena manusia mengganggu dan merampas kebahagiaan alam.
Karena kesuksesan dan kebahagiaan milik semua umat manusia, tak boleh kita berusaha merebut dan merampasnya dengan paksa. Jika hari ini, dirasa kita belum sukses, itu bukan berarti gagal, tapi memang sukses yang tertunda. Jangan kedepankan iri dengki ketika melihat orang lain sukses, bahagia. Karena yang kita lihat hanyalah tampilan luarnya. Bukankah orang yang tersenyum, belum tentu ia bahagia, mungkin saja dia sedang menutupi kesedihan hatinya.
Karena itu, daripada ribut dan cape mengikuti perkembangan tetangga, kawan atau saudara yang makin hari semakin terlihat tajir dan sukses, lebih baik mengurusi diri sendiri. Fokus kepada pengembangan diri, terus menjaga stamina dan semangat juang, terus berusaha meraih sukses, terus dan terus menerus mencari jalan. Sampai napas tinggal satu helaan dan darah tinggal satu tetes, hidup masih selalu ada kesempatan dan harapan. Maka, terus meneruslah pelihara harapan itu atau kita akan menjadi manusia yang tak berguna.
Jika hari ini Anda masih pengangguran, maka jangan putus asa untuk terus menerus memasukkan lamaran kerja, bertanya ke banyak orang, mendatangi job expo, membuka internet yang terkait dengan lowongan kerja, membaca info lowongan kerja dan terus beraktivitas yang positif untuk membangun diri dari sisi keterampilan, intelektual, emosional dan spiritual.
Untuk apa lagi saya harus keluarkan biaya untuk kursus, sekolah atau ongkos ke sana ke mari untuk mencari kerja? Waduh, saudaraku, itu kan investasi. Investasi itu akan bisa dinikmati segera, nanti atau bahkan suatu saat nanti. Jangan rugi kalau kita melakukan investasi selama tujuannya memang jelas. Terus-terus lah berusaha. Karena harapan itu selalu ada selama semangat tetap dijaga dan dipelihara. Ingat, tidak ada sesuatu yang tak mungkin. Jika kita merasa tidak mungkin mengerjakan sesuatu, jeda dulu saja, lalu mulai kembali mempelajarinya, mencobanya dan terus mencoba. Semoga sukses bersama kita...
Selesaikan Bacanya!......
Ketahuilah, harapan bukanlah sesuatu yang antah berantah, jauh di sana atau ada pada diri orang lain. Harapan itu ada dalam diri Anda, sesungguhnya kekuatan diri yang harus dijaga, dirawat dan dipelihara. Cara menjaga dan memeliharanya adalah dengan terus menerus melihat, menyadarkan diri Anda bahwa banyak sisi kelebihan yang Anda miliki.
Jika Anda dinilai banyak orang bodoh, prestasi di sekolah buruk, itu bukan berarti Anda tidak punya harapan untuk sukses. Bodoh dan nilai buruk di sekolah hanyalah ukuran IQ (kecerdasan intelektual). Bukankah mungkin kita punya kecerdasan yang lebih besar lagi yaitu kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Albert Einstein, fisikawan terkemuka abad 20 bukanlah mahasiswa cerdas, tapi dia mampu menggegerkan dunia, dengan temuannya, dan membuat banyak negara membuat bom atom.
Ayo pelajari apa yang menjadi kelebihan Anda. Bagaimana mungkin tahu, kalau saya ada kelebihan? Pertanyaan umum yang sering saya dapatkan dari kawan atau audiens. Gampang aja itu. Ingat-ingat lah terus apa yang menjadi kebanggaan Anda, membuat orang memuji Anda dengan jujur (saya sebutkan dengan jujur, karena tak sedikit mereka memuji kita hanya untuk menjilat saja), membuat Anda berprestasi, membuat Anda merasa paling hebat, dan memang itu lah kelebihan kita.
Soal memuji, sebaiknya jika Anda punya anak buah, tentunya bukan dari anak buah, karena kalau anak buah memuji Anda, itu sudah lumrah. Jika kekasih, suami atau istri Anda memuji, itu sudah lumrah. Temukan banyak pujian dari banyak orang, tapi Anda sendiri, kalau tidak diberitahu oleh kawan atau saudara Anda sebenarnya tidak tahu. Itu lah salah satu pujian jujur.
Saudaraku, bila kita punya sahabat, kawan atau mungkin dia adalah pesaing kita, mengakui dengan jujur akan kehebatan sahabat atau pesaing kita bukanlah pekerjaan mudah. Perlu kekuatan mental dan kekokohan sikap yang gentle untuk itu semua.
Tapi, hati-hatilah, jangan sampai Anda menjadi orang yang selalu ingin dipuji, atau gede rumangsa (geer). Karena sesungguhnya, harga diri Anda itu rendah. Orang yang selalu rendah hati dan mau melayani adalah orang yang punya pribadi dan harga diri unggul, sebaliknya orang yang selalu ingin dipuji dan dihargai hanyalah orang kerdil yang kehilangan legitimasi dan berusaha mencarinya walau dengan menggadaikan harga diri itu.
Jika kita punya keterampilan musik atau kerajinan, mengapa tidak itu yang dikembangkan. Mengapa tidak itu bisa menjadi kekuatan kita untuk meraih rezeki yang halal dan baik. Jika kita punya keterampilan bermain musik, mengapa tidak itu dimaksimalkan untuk menjadi cara kita mencari nafkah dan seterusnya. Jangan pernah kehilangan akal dan semangat untuk berusaha, berusaha dan terus berusaha, karena harapan itu selalu ada.
Jika kita punya kelebihan, dan karena itu orang dekat atau tetangga membutuhkan kita, mengapa tidak itu ditekuni dan menjadi kelebihan kita dibandingkan orang lain. Ditekuni artinya terus belajar, terus menerus sehingga kemampuan kita atau keterampilan tersebut terus meningkat.
Sumber energi dari harapan bernama semangat. Semangat tidak lahir dari otak yang cerdas secara intelektual saja. Semangat adalah api yang selalu membakar jiwa untuk menggerakkan tubuh, yang sesungguhnya tak bisa bergerak jika tidak ada perintah jiwa, untuk menjaganya dan membangun semangat lebih tinggi, membutuhkan "BBM" yang terus menerus menjaga api semangat tetap nyala dan bertambah besar.
Karena itu, bukan sekedar kecerdasan intelektual, tapi juga kecerdasaran emosional dan spiritual yang dibutuhkan. Sebagai kekuatan dalam diri, ketiga aspek kecerdasan itu harus terus diasah.
Semangat itu lahir dari jiwa yang selalu optimis melihat sesuatu. Kenapa demikian? Karena manusia yang penuh semangat selalu melihat rintangan sebagai tantangan, gangguan sebagai ujian, cobaan sebagai media untuk belajar.
Di sinilah pentingnya persepsi dan keyakinan bahwa segalanya selalu ada jalan keluar untuk mengatasinya. Selama kita fokus, lalu berusaha untuk mempelajarinya, mencari solusi dengan tekun dan mental tak mudah kalah, pasti akan ada jalan dan solusi. Cikaracak Ninggang Batu, Laun-laun jadi legok (titik air yang tiap hari mengenai batu sekeras apapun, lama-lama batu itu menjadi rapuh). Artinya jika ditekuni, sesuatu itu pasti akan dikuasai.
Sikap mental yang ulet dan membaja dalam menekuni sesuatu adalah kekuatan yang tak tertandingi dan modal untuk meraih sukses. Karena itu, jangan selalu silau dengan kehebatan orang lain, bingung bahkan iri dengan kesuksesan tetangga, kawan atau saudara.
Kesuksesan dan kebahagiaan adalah milik semua umat manusia, tak terkecuali. Hewan dan tumbuhan sekalipun, jika mampu berbicara dalam bahasa manusia, tentu saja akan bercerita bahwa mereka mendapatkan kebahagiaan karena demikianlah, alam telah diatur sedemikian harmonis oleh Tuhan. Keseimbangan alam harus dijaga, karena melawannya akan mengganggu keseimbangan itu. Jika terjadi longsor, kebakaran atau banjir, itu karena manusia mengganggu dan merampas kebahagiaan alam.
Karena kesuksesan dan kebahagiaan milik semua umat manusia, tak boleh kita berusaha merebut dan merampasnya dengan paksa. Jika hari ini, dirasa kita belum sukses, itu bukan berarti gagal, tapi memang sukses yang tertunda. Jangan kedepankan iri dengki ketika melihat orang lain sukses, bahagia. Karena yang kita lihat hanyalah tampilan luarnya. Bukankah orang yang tersenyum, belum tentu ia bahagia, mungkin saja dia sedang menutupi kesedihan hatinya.
Karena itu, daripada ribut dan cape mengikuti perkembangan tetangga, kawan atau saudara yang makin hari semakin terlihat tajir dan sukses, lebih baik mengurusi diri sendiri. Fokus kepada pengembangan diri, terus menjaga stamina dan semangat juang, terus berusaha meraih sukses, terus dan terus menerus mencari jalan. Sampai napas tinggal satu helaan dan darah tinggal satu tetes, hidup masih selalu ada kesempatan dan harapan. Maka, terus meneruslah pelihara harapan itu atau kita akan menjadi manusia yang tak berguna.
Jika hari ini Anda masih pengangguran, maka jangan putus asa untuk terus menerus memasukkan lamaran kerja, bertanya ke banyak orang, mendatangi job expo, membuka internet yang terkait dengan lowongan kerja, membaca info lowongan kerja dan terus beraktivitas yang positif untuk membangun diri dari sisi keterampilan, intelektual, emosional dan spiritual.
Untuk apa lagi saya harus keluarkan biaya untuk kursus, sekolah atau ongkos ke sana ke mari untuk mencari kerja? Waduh, saudaraku, itu kan investasi. Investasi itu akan bisa dinikmati segera, nanti atau bahkan suatu saat nanti. Jangan rugi kalau kita melakukan investasi selama tujuannya memang jelas. Terus-terus lah berusaha. Karena harapan itu selalu ada selama semangat tetap dijaga dan dipelihara. Ingat, tidak ada sesuatu yang tak mungkin. Jika kita merasa tidak mungkin mengerjakan sesuatu, jeda dulu saja, lalu mulai kembali mempelajarinya, mencobanya dan terus mencoba. Semoga sukses bersama kita...
Selesaikan Bacanya!......
Senin, 09 Februari 2009
Produktif lah, Atau Mati Saja...
Seperti tubuh, bangsa ini tengah sakit keras. Maka jangan lah terus dibuat sakit. Karena bukan mustahil kematian akan segera menjemput jika terapi dan obat penawarnya tidak segera dimakan.
Namun, mesti diingat, obat penawar itu tak mungkin ampuh, jika kita sendiri tidak yakin, tidak ada sugesti, bahwa dengan memakan obat itu akan sembuh. Jadi, hal pertama yang harus dikuatkan adalah keyakinan bahwa masih ada obat, masih ada harapan dan kita bersama akan sembuh dari sakit. Jika persepsi kita yakin akan sehat, kita akan sehat, demikian sebaliknya.
Sakit apakah bangsa ini? Mari kita diagnosa satu persatu sekaligus mencari dan menjadi obat penyembuh. Mencari obat dengan cara mengidentifikasi masalah, melokalisir dan menemukan faktor penyebabnya. Lalu mencari obatnya. Mencari obat saja tidak cukup, tapi menjadi bagian dari upaya menyembuhkan tubuh yang sakit itu.
Saya kira bangsa ini membutuhkan manusia-manusia yang bukan sekedar pengamat, mampu mengidentifikasi masalah atau penyakit (tentu dengan data-data yang kuat dan akurat tentunya) tapi juga pelaksana, leader yang mengeksekusi suatu keputusan dari hasil diagnosa atas suatu masalah atau penyakit.
Dalam kondisi tidak normal, menjadi pasien dan dokter sekaligus adalah mungkin. Jadi dokter atas berbagai macam penyakit harus bisa dilakukan.
Dari sekian banyak penyakit yang diderita bangsa ini, salah satunya adalah budaya malas. Etos kerja anak bangsa ini rendah. Lebih senang tangan di bawah (meminta) dibandingkan tangah di atas (memberi). Lihat saja, dari mulai pengemis jalanan sampai pengemis elit, berdasi, atasnama lobi dan proyek dengan menggunakan proposal tipu-tipu bergentayangan di berbagai lingkungan, lembaga dan instansi.
Obat malas tentunya rajin. Namun menjadi "Me-rajin" itu bukan perkara gampang. Ada setumpuk dan segerombolan pengganggu untuk menjadi manusia rajin. Dalam bahasa ekonominya, rajin dapat berarti produktif. Rumusnya, output lebih besar dari pada input karena proses produksi berjalan efektif, ekonomis dan efisien.
Secara filosofi, produktivitas didefinisikan sebagai suatu pandangan hidup bahwa mutu kehidupan hari ini harus lebih baik dari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Secara ekonomis, produktivitas didefinisikan meningkatkan nilai tambah dan mengurangi pemborosan. Hal ini dilakukan dengan peningkatan efisiensi, efektifitas dan kualitas. Secara teknis, produktivitas didefinisikan sebagai perbandingan antara output dengan input.
Waktu kecil, kita diajari pribahasa; rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya. Mungkin itu konteknya dalam hal belajar. Tentu kita bisa pahami dan memang demikian adanya. Namun tentu harus ditambahkan lagi, rajin pangkal kaya. Rajin bekerja atau produktif pangkal kaya.
Produktif disini, seiring dengan majunya peradaban manusia dimana teknologi dan informasi semakin canggih, bukan sekedar kerja keras, namun dalam bahasa beberapa kawan saya, bekerja keras dan cerdas. Bukan hanya mengandalkan otot, tapi otak dan tentunya hati nurani.
Mari kita lihat hasil survey. Tingkat produktivitas Indonesia menurut IDM World Competitivieness Year Book 2005, berada pada peringkat 59 dari 60 negara yang disurvey. Hal ini menggambarkan bahwa tingkat daya tahan dan daya saing masih rendah sehingga menyebabkan sulitnya mencapai pemulihan dari krisis ekonomi.
Gerombolan pengganggu itu adalah pandangan; mengapa harus bekerja keras, tetangga sebelah saja yang kerjanya santai, kaya raya. Ini jelas pandangan salah. Bisa saja tetangga yang santai itu kaya raya itu hasil dari kerja cerdas.
Bukankah saat ini, dengan kecanggihan teknologi, kerja bisa dilakukan di rumah, tanpa sekat kantor dan jam kerja yang kaku. Internet, 3 G, dan berbagai perangkat teknologi informasi menjadikan dunia ini tak bersekat, menjadi desa buana (global village) yang dapat dijangkau tanpa kehadiran fisik langsung, namun melalui perantara teknologi informasi tersebut.
Kemungkinan kedua, tetangga atau saudara yang kelihatannya bekerja santai karena dapat warisan, nyegik (kalau kita percaya hal ini), atau korupsi. Jika demikian kondisinya, apa hebatnya? Bukankah semua agama mengajarkan, harta yang diperoleh dari cara-cara yang tidak benar tidak akan berkah. Jika tidak hilang, hancur, dirampok, bisa juga habis oleh anak-anaknya nanti. Namun yang jelas, harta seperti tidak akan melahirkan kebahagiaan, percayalah 1000 persen akan konsep ini.
Jika demikian adanya, maka bekerja keras dan cerdaslah. Namun sebelum bekerja cerdas, tentu harus bekerja keras dulu. Sebelum menjadi direktur utama atau manager dulu, tentu harus jadi staf dulu, mengurus tetek bengek hal-hal yang sifatnya teknis dan administratif. Dengan karir yang meningkat, akan menjadi pengambil kebijakan. Pada level ini, bukan otot dan sedikit otak yang dipake (sebagaimana staf), tapi otak lah yang 90 persen dipake. Karena otak, informasi baik dari bacaan, data survey, masukan dari konsultan ataupun staf menjadi penting sebelum keputusan diambil. Keputusan yang baik lahir dari input informasi yang banyak dan baik.
Bekerja keras dan cerdas harus dinikmati. Jika tidak, segeralah beralih profesi. Bekerja keras dan cerdas adalah ibadah, demikianlah ajaran agama-agama. Max Weber bahkan yakin, kapitalisme, etos berusaha dan menjadi kaya di masyarakat Eropa karena pengaruh spirit etika protestan yang meyakini jika di dunia bekerja keras dan kaya raya, maka di akhirat, surga dan kebahagiaan adalah balasannya. Bagi Karl Marx, bekerja menjadikan manusia menemukan eksistensinya.
Dengan bekerja, manusia menemukan dirinya, memenuhi kebutuhan hidup, menggerakkan ekonomi dan memerankan fungsi kekhalifahan (wakil) di bumi. Dengan bekerja juga, ide, kreatifitas dan budaya manusia berkembang sepanjang zaman dengan sangat cepat.
Karena itu, bekerja keras lah dan jadikanlah prinsip produktif pangkal kaya sebagai jimat hidup. Ingat sebelum tidur dan sepanjang hari. Ketahuilah, Anda tidak akan mendapatkan rezeki lebih jika tidak bekerja lebih, di atas rata-rata. Anda tidak akan menjadi pemimpin jika hanya bekerja rata-rata.
Bangsa ini merindukan manusia-manusia produktif, kreatif, inovatif dan pekerja keras. Mari menjadi penyembuh tubuh yang makin sakit dan rapuh. Bangkit dengan semangat mengabdi pada diri sendiri dan bangsa. Seperti laskar pelangi, menjadikan mimpi sebagai kekuatan penggairah untuk belajar, bekerja dan meraih cita-cita. Bukankah itu artinya hidup kita akan mulia. Produktif lah sepanjang hidup. Atau jika tidak bisa, lebih baik jadi mayat saja. Wallahuálam
Selesaikan Bacanya!......
Namun, mesti diingat, obat penawar itu tak mungkin ampuh, jika kita sendiri tidak yakin, tidak ada sugesti, bahwa dengan memakan obat itu akan sembuh. Jadi, hal pertama yang harus dikuatkan adalah keyakinan bahwa masih ada obat, masih ada harapan dan kita bersama akan sembuh dari sakit. Jika persepsi kita yakin akan sehat, kita akan sehat, demikian sebaliknya.
Sakit apakah bangsa ini? Mari kita diagnosa satu persatu sekaligus mencari dan menjadi obat penyembuh. Mencari obat dengan cara mengidentifikasi masalah, melokalisir dan menemukan faktor penyebabnya. Lalu mencari obatnya. Mencari obat saja tidak cukup, tapi menjadi bagian dari upaya menyembuhkan tubuh yang sakit itu.
Saya kira bangsa ini membutuhkan manusia-manusia yang bukan sekedar pengamat, mampu mengidentifikasi masalah atau penyakit (tentu dengan data-data yang kuat dan akurat tentunya) tapi juga pelaksana, leader yang mengeksekusi suatu keputusan dari hasil diagnosa atas suatu masalah atau penyakit.
Dalam kondisi tidak normal, menjadi pasien dan dokter sekaligus adalah mungkin. Jadi dokter atas berbagai macam penyakit harus bisa dilakukan.
Dari sekian banyak penyakit yang diderita bangsa ini, salah satunya adalah budaya malas. Etos kerja anak bangsa ini rendah. Lebih senang tangan di bawah (meminta) dibandingkan tangah di atas (memberi). Lihat saja, dari mulai pengemis jalanan sampai pengemis elit, berdasi, atasnama lobi dan proyek dengan menggunakan proposal tipu-tipu bergentayangan di berbagai lingkungan, lembaga dan instansi.
Obat malas tentunya rajin. Namun menjadi "Me-rajin" itu bukan perkara gampang. Ada setumpuk dan segerombolan pengganggu untuk menjadi manusia rajin. Dalam bahasa ekonominya, rajin dapat berarti produktif. Rumusnya, output lebih besar dari pada input karena proses produksi berjalan efektif, ekonomis dan efisien.
Secara filosofi, produktivitas didefinisikan sebagai suatu pandangan hidup bahwa mutu kehidupan hari ini harus lebih baik dari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Secara ekonomis, produktivitas didefinisikan meningkatkan nilai tambah dan mengurangi pemborosan. Hal ini dilakukan dengan peningkatan efisiensi, efektifitas dan kualitas. Secara teknis, produktivitas didefinisikan sebagai perbandingan antara output dengan input.
Waktu kecil, kita diajari pribahasa; rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya. Mungkin itu konteknya dalam hal belajar. Tentu kita bisa pahami dan memang demikian adanya. Namun tentu harus ditambahkan lagi, rajin pangkal kaya. Rajin bekerja atau produktif pangkal kaya.
Produktif disini, seiring dengan majunya peradaban manusia dimana teknologi dan informasi semakin canggih, bukan sekedar kerja keras, namun dalam bahasa beberapa kawan saya, bekerja keras dan cerdas. Bukan hanya mengandalkan otot, tapi otak dan tentunya hati nurani.
Mari kita lihat hasil survey. Tingkat produktivitas Indonesia menurut IDM World Competitivieness Year Book 2005, berada pada peringkat 59 dari 60 negara yang disurvey. Hal ini menggambarkan bahwa tingkat daya tahan dan daya saing masih rendah sehingga menyebabkan sulitnya mencapai pemulihan dari krisis ekonomi.
Gerombolan pengganggu itu adalah pandangan; mengapa harus bekerja keras, tetangga sebelah saja yang kerjanya santai, kaya raya. Ini jelas pandangan salah. Bisa saja tetangga yang santai itu kaya raya itu hasil dari kerja cerdas.
Bukankah saat ini, dengan kecanggihan teknologi, kerja bisa dilakukan di rumah, tanpa sekat kantor dan jam kerja yang kaku. Internet, 3 G, dan berbagai perangkat teknologi informasi menjadikan dunia ini tak bersekat, menjadi desa buana (global village) yang dapat dijangkau tanpa kehadiran fisik langsung, namun melalui perantara teknologi informasi tersebut.
Kemungkinan kedua, tetangga atau saudara yang kelihatannya bekerja santai karena dapat warisan, nyegik (kalau kita percaya hal ini), atau korupsi. Jika demikian kondisinya, apa hebatnya? Bukankah semua agama mengajarkan, harta yang diperoleh dari cara-cara yang tidak benar tidak akan berkah. Jika tidak hilang, hancur, dirampok, bisa juga habis oleh anak-anaknya nanti. Namun yang jelas, harta seperti tidak akan melahirkan kebahagiaan, percayalah 1000 persen akan konsep ini.
Jika demikian adanya, maka bekerja keras dan cerdaslah. Namun sebelum bekerja cerdas, tentu harus bekerja keras dulu. Sebelum menjadi direktur utama atau manager dulu, tentu harus jadi staf dulu, mengurus tetek bengek hal-hal yang sifatnya teknis dan administratif. Dengan karir yang meningkat, akan menjadi pengambil kebijakan. Pada level ini, bukan otot dan sedikit otak yang dipake (sebagaimana staf), tapi otak lah yang 90 persen dipake. Karena otak, informasi baik dari bacaan, data survey, masukan dari konsultan ataupun staf menjadi penting sebelum keputusan diambil. Keputusan yang baik lahir dari input informasi yang banyak dan baik.
Bekerja keras dan cerdas harus dinikmati. Jika tidak, segeralah beralih profesi. Bekerja keras dan cerdas adalah ibadah, demikianlah ajaran agama-agama. Max Weber bahkan yakin, kapitalisme, etos berusaha dan menjadi kaya di masyarakat Eropa karena pengaruh spirit etika protestan yang meyakini jika di dunia bekerja keras dan kaya raya, maka di akhirat, surga dan kebahagiaan adalah balasannya. Bagi Karl Marx, bekerja menjadikan manusia menemukan eksistensinya.
Dengan bekerja, manusia menemukan dirinya, memenuhi kebutuhan hidup, menggerakkan ekonomi dan memerankan fungsi kekhalifahan (wakil) di bumi. Dengan bekerja juga, ide, kreatifitas dan budaya manusia berkembang sepanjang zaman dengan sangat cepat.
Karena itu, bekerja keras lah dan jadikanlah prinsip produktif pangkal kaya sebagai jimat hidup. Ingat sebelum tidur dan sepanjang hari. Ketahuilah, Anda tidak akan mendapatkan rezeki lebih jika tidak bekerja lebih, di atas rata-rata. Anda tidak akan menjadi pemimpin jika hanya bekerja rata-rata.
Bangsa ini merindukan manusia-manusia produktif, kreatif, inovatif dan pekerja keras. Mari menjadi penyembuh tubuh yang makin sakit dan rapuh. Bangkit dengan semangat mengabdi pada diri sendiri dan bangsa. Seperti laskar pelangi, menjadikan mimpi sebagai kekuatan penggairah untuk belajar, bekerja dan meraih cita-cita. Bukankah itu artinya hidup kita akan mulia. Produktif lah sepanjang hidup. Atau jika tidak bisa, lebih baik jadi mayat saja. Wallahuálam
Selesaikan Bacanya!......
Senin, 26 Januari 2009
Memaksimalkan Ikhtiar
Memaksimalkan Ikhtiar
Oleh: Iu Rusliana
Menganggur itu menyakitkan, bukan hanya secara personal, tetapi juga secara sosial. Secara personal akan menyebabkan rasa percaya diri yang kurang, penghasilan yang tidak tetap, menyebabkan secara ekonomi, hidup masih kekurangan, atau bahkan tergantung kepada orang lain atau orang tua. Di negara yang menganut welfare state (negara kesejahteraan), pengangguran masih mendapatkan hak perlindungan sosial, agar hak dasar orang miskin dan penganggur terpenuhi.
Namun, di negara yang jelas-jelas dalam Undang Undang Dasar-nya pun telah disebutkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara, tidak ada perlindungan yang nyata. Memang ada perlindungan sosial yang dilakukan oleh Departemen Sosial atau lembaga sosial yang diselenggarakan masyarakat, namun itu tidak mampu menyentuh akar persoalan dan bersifat parsial. Alih-alih menyelesaikan masalah, lebih parah lagi semakin memperumit masalah.
Secara sosial, penganguran bisa menjadi pemicu dari kerawanan sosial. Keluarga pun, kurang nyaman, tidak senang jika ada anggota keluarganya yang mengangur. Namun apa mau dikata, lapangan kerja sedikit, pencari kerja banyak. Kalau pun ada yang cocok, kompetensi yang dimiliki tidak mencukupi.
Kerawanan sosial yang disebabkan pengangguran bisa memicu konflik sosial. Anak muda akan mudah terganggu, tawuran dan melakukan aksi-aksi yang meresahkan masyarakat karena menjadi pengangguran. Ini persoalan yang hingga saat ini seakan tidak ada ujung penyelesaiannya.
Sebenarnya, ada banyak faktor mengapa seseorang itu menjadi pengangguran. Salah satunya lahir dari sikap mental manusia itu sendiri. Salah satunya sikap kurang kerja keras, mudah menyerah dan malas. Sikap mental ini lah yang membunuh kesempatan itu datang. Akhirnya, bukannya mendapatkan pekerjaan, karena kurang gesit dan tak yakin akan diterima dalam suatu pekerjaan, datangnya terlambat atau mudah menyerah.
Kalah sebelum bertanding, adalah sikap mental berbahaya. Mari kita introspeksi ke dalam diri sendiri, apakah kita punya sikap mental yang membahayakan dan mendekatkan kita kepada kemiskinan.
Untuk itu, bekerja keras lah, maksimalkan ikhtiar (usaha) yang harus kita lakukan. Usaha yang maksimal artinya sampai napas tinggal satu helaan dan kita mencapai tidak ketidakberdayaan. Sebelum dimulai, jangan pernah menyerah, coba-coba dan terus dicoba. Tidak ada kebahagiaan tanpa kerja keras. Jika hari ini Anda telah 1000 kali melamar kerja dan terus ditolak, terus lah mencoba. Jangan ambil kesimpulan kita telah gagal. Kita harus mencoba dan terus mencoba. 1000 kali bukan berarti akhir dari segalanya. Ingat, dibalik kesusahan, ada kemudahan. Tuhan tidak akan membebani umatnya dengan beban yang melampaui kemampuan umatnya itu.
Sam Walton, pendiri Wal-Mart mengingatkan, rayakan sukses Anda dan temukan humor dalam kegagalan Anda. Jangan terlalu serius. Rileks dan orang-orang disekitar Anda akan rileks. Bersenang senang dan selalu tunjukan antusiasme. Jika semua ini gagal, kenakan kostum dan nyanyi lagu gila-gilaan.
Salam,
Graha Pena Jakarta, 26 Januari 2009
Selesaikan Bacanya!......
Oleh: Iu Rusliana
Menganggur itu menyakitkan, bukan hanya secara personal, tetapi juga secara sosial. Secara personal akan menyebabkan rasa percaya diri yang kurang, penghasilan yang tidak tetap, menyebabkan secara ekonomi, hidup masih kekurangan, atau bahkan tergantung kepada orang lain atau orang tua. Di negara yang menganut welfare state (negara kesejahteraan), pengangguran masih mendapatkan hak perlindungan sosial, agar hak dasar orang miskin dan penganggur terpenuhi.
Namun, di negara yang jelas-jelas dalam Undang Undang Dasar-nya pun telah disebutkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara, tidak ada perlindungan yang nyata. Memang ada perlindungan sosial yang dilakukan oleh Departemen Sosial atau lembaga sosial yang diselenggarakan masyarakat, namun itu tidak mampu menyentuh akar persoalan dan bersifat parsial. Alih-alih menyelesaikan masalah, lebih parah lagi semakin memperumit masalah.
Secara sosial, penganguran bisa menjadi pemicu dari kerawanan sosial. Keluarga pun, kurang nyaman, tidak senang jika ada anggota keluarganya yang mengangur. Namun apa mau dikata, lapangan kerja sedikit, pencari kerja banyak. Kalau pun ada yang cocok, kompetensi yang dimiliki tidak mencukupi.
Kerawanan sosial yang disebabkan pengangguran bisa memicu konflik sosial. Anak muda akan mudah terganggu, tawuran dan melakukan aksi-aksi yang meresahkan masyarakat karena menjadi pengangguran. Ini persoalan yang hingga saat ini seakan tidak ada ujung penyelesaiannya.
Sebenarnya, ada banyak faktor mengapa seseorang itu menjadi pengangguran. Salah satunya lahir dari sikap mental manusia itu sendiri. Salah satunya sikap kurang kerja keras, mudah menyerah dan malas. Sikap mental ini lah yang membunuh kesempatan itu datang. Akhirnya, bukannya mendapatkan pekerjaan, karena kurang gesit dan tak yakin akan diterima dalam suatu pekerjaan, datangnya terlambat atau mudah menyerah.
Kalah sebelum bertanding, adalah sikap mental berbahaya. Mari kita introspeksi ke dalam diri sendiri, apakah kita punya sikap mental yang membahayakan dan mendekatkan kita kepada kemiskinan.
Untuk itu, bekerja keras lah, maksimalkan ikhtiar (usaha) yang harus kita lakukan. Usaha yang maksimal artinya sampai napas tinggal satu helaan dan kita mencapai tidak ketidakberdayaan. Sebelum dimulai, jangan pernah menyerah, coba-coba dan terus dicoba. Tidak ada kebahagiaan tanpa kerja keras. Jika hari ini Anda telah 1000 kali melamar kerja dan terus ditolak, terus lah mencoba. Jangan ambil kesimpulan kita telah gagal. Kita harus mencoba dan terus mencoba. 1000 kali bukan berarti akhir dari segalanya. Ingat, dibalik kesusahan, ada kemudahan. Tuhan tidak akan membebani umatnya dengan beban yang melampaui kemampuan umatnya itu.
Sam Walton, pendiri Wal-Mart mengingatkan, rayakan sukses Anda dan temukan humor dalam kegagalan Anda. Jangan terlalu serius. Rileks dan orang-orang disekitar Anda akan rileks. Bersenang senang dan selalu tunjukan antusiasme. Jika semua ini gagal, kenakan kostum dan nyanyi lagu gila-gilaan.
Salam,
Graha Pena Jakarta, 26 Januari 2009
Selesaikan Bacanya!......
Pengelola
- Iu Rusliana
- Pewarta di Jawa Pos Group, staf pengajar filsafat di UIN Bandung, dan Aktivis di Muhammadiyah. Asli urang Sukabumi dan menyelesaikan studi S2 Ekonomi Syariah di Universitas Indonesia (UI) tahun 2010. Alumni Jurusan Aqidah Filsafat UIN Bandung ini yakin bahwa berbagi kasih adalah misi suci setiap agama di muka bumi. Berbagi tidak mengurangi milik kita, tapi akan menambahkannya, sebagaimana janji-Nya.