Jika saja Ka'bah dekat, mungkin aku tiap saat shalat di dekatnya. Sayang, Ka'bah ada di Makkatal Mukarramah. Aku rindu Ka'bah dan selalu hatiku seakan didekatnya. Semoga Allah segera mengundangku melaksanakan ibadah umrah dan haji.
Allah Swt telah memberi anugerah teramat besar bagi kota Makkah dan Madinah, karena hingga akhir zaman, tiap tahunnya ada ratusan triliun dana yang masuk dari kegiatan umrah dan haji. Bahkan ritual ibadah itu pun memberikan multiplayer effect kepada seluruh negara yang ada penduduk muslim. Biro perjalanan haji dan umrah serta aksesoris yang terkait dengan kegiatan ibadah haji dan umrah menjadi dagangan yang laris manis.
Itu baru dari sisi ekonomi. Belum lagi sisi politik, sosial dan ekonomi. Demikian lah berkah itu terus bertambah dan bertambah. Tak akan habis hingga akhir zaman nanti. Karena itu, rindukan lah Ka'bah. Tapi jangan berhalakan Ka'bah.
Merindukannya artinya ingin hidup selalu di bawah naungan ridla Allah Swt, titik. Tak ada yang diinginkan selain itu. Karena dengan niat seperti itu, hidup ini terasa menyenangkan, membahagiakan dan menentramkan.
Apa yang kita cari? Bukan kah kebahagiaan? Doa kita disetiap usai shalat selalu berulang meminta agar di dunia menjadi hasanah dan di akhirat menjadi hasanah, tapi mengapa kita menjauhinya, mengingkari doa itu. Naudzubillah.
Menipu, gila harta dan jabatan, sek bebas, mabuk-mabukan, korupsi, menghina orang, berprilaku tidak sepatutnya, meninggalkan ibadah. Semoga Allah menjauhkan kita dari segala perbuatan yang membuat-Nya murka.
Sebagai intelektual, atasnama kritik atas agama kita mengkritisi sesuatu yang menurut Filosof Iran Muhammad Baqir Shadr sebagai sesuatu yang tashdiq, benar adanya dan tak perlu dipertanyakan lagi karena hanya akan mendatangkan kesia-siaan.
Tuhan pun digugat, dikritik lalu shalat sebagai ibadah dianggap sebagai kesia-siaan. Naudzubillah. Bahkan dengan bangganya menggunakan aksesoris agama lain, meneriakkan kebebasan beragama, padahal sejatinya kita ini membutuhkan agama dan seharusnya beragama. Karena itu tentu ada banyak perintah agama yang harus dilaksanakan. Atas nama kebebasan beragama juga memakai purdah dianggap pengkerangkengan kepada kebebasan beragama. Padahal Allah Swt sudah jelas memerintahkan untuk menutup aurat.
Sekedar aurat pun diperdebatkan dan kita pun menjadi dungu. Bangga karena telah menjadi juru bicara kepentingan asing di negeri yang mayoritas penduduknya muslim. Lalu menjadi juru bicara kebebasan beragama. Doku pun jadi penuh karena dollar mulai masuk ke kantong dari berbagai proyek atasnama kebebasan beragama, demokrasi, kesetaraan jender dan yang lainnya.
Sekedar soal peran istri, perempuan dan suami (laki-laki) pun diperdebatkan. Padahal soal itu adalah soal karakter yang apabila semuanya dibangun dengan komunikasi yang baik tidak ada masalah.
Sekedar demokrasi aja menjadi isu menarik. Padahal atasnama demokrasi juga Indonesia hingga kini belum sejahtera. Demokrasi hanya cara, alat untuk mencapai kesejahteraan bersama.
Kita dungu, lupa tujuan dan sekedar menyenangi pesta. Lupa tujuan sesungguhnya dan lebih senang dengan berbagai kampulase, keramaian, pesta dan berbagai aksesoris yang sesungguhnya sekedar aksiden, bukan esensi.
Sementara, pada hal kecil pun masih lupa. Kebersihan misalnya. Apakah lingkungan kita telah bersih. Bukan sekedar iman tentu, kesehatan, kenyamanan dan keindahan akan sangat tertata kalau sudah bersih.
Ekonomi umat bagaimana? Kita akhirnya hanya sibuk seminar. Sementara renternir yang lahir dari umat itu sendiri berjumlah sangat banyak. Ramai, riuhrendah dan menguasai ekonomi umat. Lihat Mang Udin yang harus menggigit jari ketika panen tiba padahal dia taksir hasil panennya lebih dari membayar utang karena sebelumnya sudah berutang.
Bi Encih, pedagang ikan di kampung saya, Cisolok Sukabumi, sampai mencium kaki ibu dan bapak karena sudah dua tahun berdagang tak mendapatkan apa-apa selain harus membayar utang. Siapa renternir itu? Mereka umat Islam, demikian juga perusahaannya. Sementara, oleh Bapak dan Ibu diberikan pinjaman uang lebih dari cukup tanpa bunga dan diwajibkan membayar tiap hari, dengan cara menabung sampai jumlah utang pokoknya selesai. Bapak pun mengingatkan, uang itu ditabung di sekolah anak Bi Encih, agar tetap bisa menabung dan jika sudah cukup bisa melunasi utang dan jika tetap mau, bisa meminjam lagi dengan jumlah yang lebih besar.
Edi, saudara saya sekampung hampir saja berhenti sekolah karena tidak mampu membayar SPP. Beruntung ada seorang sahabat saya yang tak kaya-kaya amat, tapi punya hati mulia. Mungkin dia adalah sosok yang kaya hati.
Rizki yang diperoleh sahabat itu sepertinya sudah dia atur agar cukup untuk keluarganya, bisa menabung dan membantu saudara-saudaranya yang membutuhkan.
Suatu hari, kami pun berbincang. Menurutnya, jika aku memiliki uang Rp 100 ribu, rasanya cukup bagi kami Rp 50.000 untuk dikonsumsi, 20 ribu untuk ditabung dan 30 ribu untuk disedekahkan.
Allahu Akbar, Subhanallah. Begitu mulianya sahabat ini. Tetangga dan saudaranya sangat hormat dan sayang padanya. Bagaimana tidak, 30 persen hartanya dia berikan untuk saudaranya yang membutuhkan. Alhamdulillah, aku bersyukur ternyata masih banyak saudara ku yang berpikir seperti ini.
Dia tidak ingin terlihat kaya, mewah. Cukup lah motor baginya untuk bergerak kemana-mana. Atau menggunakan angkutan umum saja. Tapi kalau ada permintaan sumbangan untuk kepentingan umum, dibandingkan mereka yang kaya raya, dia selalu terbesar, terdepan.
"Yang saya cari dan inginkan adalah kebahagiaan, bukan harta benda melimpah tapi kita kikir. Saya berlindung kepada Allah dari godaan harta yang membuat saya silau dengan dunia. Ketahuilah, berbagi menerangkan hati." Kata sahabat tersebut suatu ketika.
Kemiskinan dan pendidikan adalah problem utama umat Islam. Mengapa tidak perhatian kita dicurahkan untuk persoalan tersebut. Keilmuan, program dan aksi nyata hendaknya diarahkan untuk itu.
Mengapa kita tidak menggugat persoalan keuamatan dan kebangsaan yang nyata di depan mata. Malah sibuk dengan ragam wacana yang tak jelas juntrungannya hanya karena sekedar hendak mendapatkan rupiah atau dollar dari donor asing atasnama proyek. Naudzubillah. Itu bukan proyek, tapi jalan menuju neraka. Bukan kah itu pengkhianatan intelektual. Bukan kah itu hegemoni dan penjajahan baru.
Kini soal nyata itu bernama ekonomi dan pendidikan dan seluruh energi kita harus menyatu untuk itu. Karena itu, jadikahlah hidup kita penuh manfaat bukan menambah madharat. Biarkan lah Ka'bah ada dihatimu, seperti cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Sehingga tak ada waktu untuk kita sekedar membuang waktu dan menumpuk kesenangan duniawi semata. Tetaplah seimbang agar di dunia bahagia, di akhirat juga. Amin. Semoga
Graha Pena, 2 April 2009
Selesaikan Bacanya!......
Kamis, 02 April 2009
Rabu, 01 April 2009
Jangan Sekedar Pesta Demokrasi
Hingar bingar pasar politik makin ramai saja. Begitu seorang kawan membuka perbincangan di kedai bubur kacang ijo, depan kantor. Ya, memang dagangan politik di sebuah pasar bernama Indonesia. Dagangan yang disertai beragam pesta, sehingga terasa meriah dan ramai.
"Aku khawatir, kita tidak memperhatikan produk yang ditawarkan dari dagangan itu kang," ujarku menimpali. "Jangan-jangan kita lebih senang melihat pestanya ketimbang produk yang dijual. Lebih tertarik memilih produk yang kemasannya bagus padahal kualitasnya nol. Bangsa ini nampaknya lebih senang dengan pesta, tertarik dengan pestanya dibanding memperhatikan hasil dari pesta dan perhelatan lima tahunan itu," sambung aku.
"Memang ini lah pasar politik kita kang. Jangan pernah terjebak di pesta, perhatikan outputnya. Jangan salah memilih pemimpin atau lebih baik nggak usaha milih aja," begitu kawan yang merupakan wartawan senior di Jawa Pos itu.
Pasar yang penuh hingar bingar para pedagang, pencopet, sales promotion girl (SPG), pedagang asongan, orang yang sekedar mau masuk ke pasar aja, cuci mata tapi tak niat belanja dan sebagainya. Pokoknya ramai dan sangat ramai, berdesak-desakan. Penuh gairah dan semuanya punya mimpi.
Berkisah soal pasar dan pesta, saya sangat khawatir jika saja kita lupa dan terlalu tenggelam asyik dalam pesta politik, lupa ada output bersama yang ingin dicapai.
Pemilu hanyalah pesta dari suatu keputusan bersama, falsafah politik bernama demokrasi. Dalam pemilu lah, pesta digelar dan diharapkan lahir para pemimpin bangsa yang benar-benar merealisasikan keinginan bangsa. Pemilu bukan sekedar pesta yang dari sisi ekonomi menghabiskan dana penggerak ekonomi sampai Rp 30 triliun. Pemilu, lebih merupakan upaya bersama mendapatkan pemimpin terbaik, dimana cita-cita berbangsa direalisasikan.
Dalam pemilu itu lah ada jualan, agar dagangannya laku, setiap kandidat harus mampu menjual dirinya dengan baik. Kalau kita perhatikan, calon Presiden-Wakil Presiden selain memerlukan basis masa riil, mesin politik yang produktif, juga harus mampu mencitrakan dirinya sebagai pribadi yang memang tepat untuk menjadi pemimpin bangsa ini. Maka tidak pelak lagi, mereka harus memoles dirinya dengan publikasi besar-besaran baik melalui media masa baik elektronik, cetak, media luar luar seperti billboard, baligho, bahkan melalui berbagai media alternatif seperti pamplet, spanduk, dan sticker. Para kandidat harus berusaha menampilkan citra positif atas dirinya, sehingga diharapkan rakyat akan memberikan kepercayaan politik kepada dirinya.
Dalam berkampanye, para calon Presiden-Wakil Presiden dan teamnya berusaha menampilkan diri sebagai sosok yang relatif sempurna. Kontrak politik, pendidikan murah, pembukaan lapangan kerja sebesar-besarnya, pemberantasan korupsi, harga murah, ketertiban dan keamanan serta jaminan sosial (kesejahteraan) menjadi bahan kampanye yang tidak habis-habisnya disampaikan oleh para juru kampanye masing-masing calon. Lagu lama itu diputar kembali dengan harapan rakyat akan terpengaruh dan kemudian memilihnya.
Kita mungkin layak menyebut diri sebagai bangsa pemimpi. Bahkan kitapun jangan-jangan akan dipimpin oleh para pemimpi. Dimana janji-janji saat kampanye hanya menjadi omong kosong yang sulit terealisasi. Kampanye hanya menjadi ajang pesta pora dan bukan sebagai ajang presentasi visi dan misi para kandidat.
Pemilu bukanlah “permainan” atau “hiburan”, demikian syair lagu Iwan Fals dalam albumnya “Manusia Setengah Dewa”. Kita adalah pemilik kedaulatan negeri ini. Kita hanya menitipkannya kepada mereka kedaulatan, dan berhak menagihnya kembali.
Siapapun calon Presiden dan Wakil Presidennya, mereka tentu dapat membungkus dirinya dengan tampilan kebaikan dan janji. Siapapun tentu akan mengklaim dirinya bersih, jujur, dan amanah. Tetapi, realitas objektifnya belum tentu demikian adanya. Karenanya, publik (baca:rakyat) harus memperoleh informasi berimbang yang tidak hanya dari seluruh team kampanye, tetapi dari media dan pengamat. Sehingga akan diperoleh informasi imbang mengenai track record para calon Presiden dan Wakil Presiden yang akan dipilih nanti.
Memilih Secara Kritis
Bagi kita sebagai pemilih, kekritisan menjadi sikap politik penting yang diperlukan. Kita jangan sampai terbius oleh janji-janji para calon Presiden-Wakil Presiden. Segala bentuk upaya kecurangan seperti money politic harus dijadikan catatan untuk menilai apakah mereka layak kita titipi amanah atau tidak.
Ada beberapa informasi objektif yang harus kita miliki sebelum memilih. Pertama, ketahuilah track record masing-masing kandidat. Terkait didalamnya mengenai kekayaan, keluarga, hubungannya dengan rezim politik masa lalu dan prestasi yang dilakukannya selama ini. Hal ini diperlukan untuk menilai kualitas pribadi para kandidat. Bukan hanya informasi searah dari para tim kampanye yang harus kita ketahui, tetapi informasi dari berbagai sumber yang objektif seperti media masa dan para pakar.
Keterkaitan kandidat dengan rezim masa lalu -yang telah membawa kehancuran negeri ini dengan merajalelanya korupsi,kolusi dan nepotisme- menjadi salah satu bahan pertimbangan kita selaku pemilih, karena apabila mereka yang terkait dengan rezim masa lalu menjadi Presiden negeri ini, akan sulit diperoleh keputusan tegas darinya. Hal ini terjadi karena ada beban sejarah dan politik kepentingan "saling menyelamatkan" diantara mereka.
Apakah kita tidak merasa akan dibodohi lagi? Atau jangan-jangan memang kita masa bodoh dan menganggap memilih mereka sama-sama saja, karena tidak ada perbaikan yang berarti. Atau karena tergiur oleh iming-iming materi yang tidak seberapa dan sesaat.
Kedua, ketahuilah visi misi dan program kerja setiap kandidat. Semua program yang disampaikan oleh para kandidat atau tim kampanyenya sangat luar biasa karena memang disusun oleh para ahli. Persoalannya terletak pada sejauhmana tingkat kongkritisasi program sehingga mereka benar-benar mampu merealisasikannya. Siapakah yang akan dipercaya untuk merealisasikannya dan bagaimana kemungkinan pencapaiannya?
Publik bersama-sama harus berusaha dan diberikan hak mengetahui bagaimana program kerja kongkret, siapa menterinya, dan apa target yang hendak dicapai dalam 100 hari pertama. Inilah bentuk kontrak sosial-politik yang penting dilakukan oleh publik atas calon Presiden dan Wakil Presiden. Apabila tidak dilakukan upaya tersebut, dipastikan kita akan kembali menjadikan Pemilu Presiden-Wakil Presiden pertama ini sebagai ajang pesta sesaat yang hanya akan menghasilkan rezim baru yang sama sekali tidak akan memberikan perbaikan nasib bangsa.
Ketiga, dapatkan informasi objektif mengenai sekeliling para kandidat. Informasi ini penting untuk membaca arah policy yang akan dikeluarkan ketika mereka terpilih nanti. Apakah yang menjadi team kandidat tersebut adalah para tikus bangsa atau yang merugikan umat? Pertanyaan ini harus diajukan karena ditangan Presiden akan dihasilkan keputusan yang menyangkut hajat hidup warga bangsa ini. Kitapun berhak mengetahui siapa, organisasi apa yang mendukung para kandidat tersebut.
Keempat, pastikan kita terlibat aktif dalam proses Pemilu ini dengan menjadi pengawas, sehingga kita dapat menemukan kandidat manakah yang banyak melakukan pelanggaran dan kandidat mana yang tidak atau lebih sedikit. Terlebih berkaitan dengan money politic, pastikan kita tidak memilih calon Presiden-Wakil Presiden yang melakukan money politic.
Semoga saja kita bukan bangsa pelupa dan pemimpi. Oleh karena itu, mari kita pilih Presiden-Wakil Presiden yang amanah agar tercipta kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Kemudian secara bersamaan kita tumbuhkan gerakan kultural yang mampu bersinergi dan mengkritisi setiap kebijakan negara demi merealisasikan mimpi-mimpi bangsa.
Merealisasikan mimpi bangsa bukanlah pekerjaan sederhana. Sehingga seluruh elemen bangsa harus bersinergi satu sama lain. Mimpi bangsa telah dicanangkan dengan jelas dalam teks-teks konstutusi dan falsafah negeri ini. Mimpi bangsa telah dipancangkan oleh para founding father bangsa, persoalannya terletak kepada political will pemerintah dan dukungan warga bangsa. Momentum pemilihan Presiden-Wakil Presiden harus dijadikan langkah perbaikan bangsa. Masihkah kita ingin menonton dagelan politik dan hukum yang bertentangan dengan rasa keadilan. Apakah kita mau mimpi indah tentang kesejahteraan itu akan sirna dengan mimpi buruk bangsa yang ada diambang kehancuran. Karenanya, sebagai sumbangsih kepada bangsa kita harus menjadi pemilih yang kritis.
Nuranilah yang harus menuntun kita menentukan pilihan politik. Bukan karena sedikit sumbangan (baca:money politic) atau keterpesonaan kita akan pribadi kandidat yang lebih banyak manipulasinya tinimbang kenyataan yang sebenarnya. Semoga Tuhan membukakan hati kita untuk memilih kandidat terbaik untuk memimpin negeri ini dan memberikan kita kekuatan memberdayakan diri dan yang lain demi masa depan bangsa yang lebih baik. Jangan terjebak dengan pesta, karena itu hanya kampulase dan peramai saja. Lampu pesta pasti menyilaukan, tapi bukan berarti kita silau dan tak tahu mana yang baik dan sekedar polesan kan? Semoga…
Graha Pena Jakarta, 1 April 2009
Selesaikan Bacanya!......
"Aku khawatir, kita tidak memperhatikan produk yang ditawarkan dari dagangan itu kang," ujarku menimpali. "Jangan-jangan kita lebih senang melihat pestanya ketimbang produk yang dijual. Lebih tertarik memilih produk yang kemasannya bagus padahal kualitasnya nol. Bangsa ini nampaknya lebih senang dengan pesta, tertarik dengan pestanya dibanding memperhatikan hasil dari pesta dan perhelatan lima tahunan itu," sambung aku.
"Memang ini lah pasar politik kita kang. Jangan pernah terjebak di pesta, perhatikan outputnya. Jangan salah memilih pemimpin atau lebih baik nggak usaha milih aja," begitu kawan yang merupakan wartawan senior di Jawa Pos itu.
Pasar yang penuh hingar bingar para pedagang, pencopet, sales promotion girl (SPG), pedagang asongan, orang yang sekedar mau masuk ke pasar aja, cuci mata tapi tak niat belanja dan sebagainya. Pokoknya ramai dan sangat ramai, berdesak-desakan. Penuh gairah dan semuanya punya mimpi.
Berkisah soal pasar dan pesta, saya sangat khawatir jika saja kita lupa dan terlalu tenggelam asyik dalam pesta politik, lupa ada output bersama yang ingin dicapai.
Pemilu hanyalah pesta dari suatu keputusan bersama, falsafah politik bernama demokrasi. Dalam pemilu lah, pesta digelar dan diharapkan lahir para pemimpin bangsa yang benar-benar merealisasikan keinginan bangsa. Pemilu bukan sekedar pesta yang dari sisi ekonomi menghabiskan dana penggerak ekonomi sampai Rp 30 triliun. Pemilu, lebih merupakan upaya bersama mendapatkan pemimpin terbaik, dimana cita-cita berbangsa direalisasikan.
Dalam pemilu itu lah ada jualan, agar dagangannya laku, setiap kandidat harus mampu menjual dirinya dengan baik. Kalau kita perhatikan, calon Presiden-Wakil Presiden selain memerlukan basis masa riil, mesin politik yang produktif, juga harus mampu mencitrakan dirinya sebagai pribadi yang memang tepat untuk menjadi pemimpin bangsa ini. Maka tidak pelak lagi, mereka harus memoles dirinya dengan publikasi besar-besaran baik melalui media masa baik elektronik, cetak, media luar luar seperti billboard, baligho, bahkan melalui berbagai media alternatif seperti pamplet, spanduk, dan sticker. Para kandidat harus berusaha menampilkan citra positif atas dirinya, sehingga diharapkan rakyat akan memberikan kepercayaan politik kepada dirinya.
Dalam berkampanye, para calon Presiden-Wakil Presiden dan teamnya berusaha menampilkan diri sebagai sosok yang relatif sempurna. Kontrak politik, pendidikan murah, pembukaan lapangan kerja sebesar-besarnya, pemberantasan korupsi, harga murah, ketertiban dan keamanan serta jaminan sosial (kesejahteraan) menjadi bahan kampanye yang tidak habis-habisnya disampaikan oleh para juru kampanye masing-masing calon. Lagu lama itu diputar kembali dengan harapan rakyat akan terpengaruh dan kemudian memilihnya.
Kita mungkin layak menyebut diri sebagai bangsa pemimpi. Bahkan kitapun jangan-jangan akan dipimpin oleh para pemimpi. Dimana janji-janji saat kampanye hanya menjadi omong kosong yang sulit terealisasi. Kampanye hanya menjadi ajang pesta pora dan bukan sebagai ajang presentasi visi dan misi para kandidat.
Pemilu bukanlah “permainan” atau “hiburan”, demikian syair lagu Iwan Fals dalam albumnya “Manusia Setengah Dewa”. Kita adalah pemilik kedaulatan negeri ini. Kita hanya menitipkannya kepada mereka kedaulatan, dan berhak menagihnya kembali.
Siapapun calon Presiden dan Wakil Presidennya, mereka tentu dapat membungkus dirinya dengan tampilan kebaikan dan janji. Siapapun tentu akan mengklaim dirinya bersih, jujur, dan amanah. Tetapi, realitas objektifnya belum tentu demikian adanya. Karenanya, publik (baca:rakyat) harus memperoleh informasi berimbang yang tidak hanya dari seluruh team kampanye, tetapi dari media dan pengamat. Sehingga akan diperoleh informasi imbang mengenai track record para calon Presiden dan Wakil Presiden yang akan dipilih nanti.
Memilih Secara Kritis
Bagi kita sebagai pemilih, kekritisan menjadi sikap politik penting yang diperlukan. Kita jangan sampai terbius oleh janji-janji para calon Presiden-Wakil Presiden. Segala bentuk upaya kecurangan seperti money politic harus dijadikan catatan untuk menilai apakah mereka layak kita titipi amanah atau tidak.
Ada beberapa informasi objektif yang harus kita miliki sebelum memilih. Pertama, ketahuilah track record masing-masing kandidat. Terkait didalamnya mengenai kekayaan, keluarga, hubungannya dengan rezim politik masa lalu dan prestasi yang dilakukannya selama ini. Hal ini diperlukan untuk menilai kualitas pribadi para kandidat. Bukan hanya informasi searah dari para tim kampanye yang harus kita ketahui, tetapi informasi dari berbagai sumber yang objektif seperti media masa dan para pakar.
Keterkaitan kandidat dengan rezim masa lalu -yang telah membawa kehancuran negeri ini dengan merajalelanya korupsi,kolusi dan nepotisme- menjadi salah satu bahan pertimbangan kita selaku pemilih, karena apabila mereka yang terkait dengan rezim masa lalu menjadi Presiden negeri ini, akan sulit diperoleh keputusan tegas darinya. Hal ini terjadi karena ada beban sejarah dan politik kepentingan "saling menyelamatkan" diantara mereka.
Apakah kita tidak merasa akan dibodohi lagi? Atau jangan-jangan memang kita masa bodoh dan menganggap memilih mereka sama-sama saja, karena tidak ada perbaikan yang berarti. Atau karena tergiur oleh iming-iming materi yang tidak seberapa dan sesaat.
Kedua, ketahuilah visi misi dan program kerja setiap kandidat. Semua program yang disampaikan oleh para kandidat atau tim kampanyenya sangat luar biasa karena memang disusun oleh para ahli. Persoalannya terletak pada sejauhmana tingkat kongkritisasi program sehingga mereka benar-benar mampu merealisasikannya. Siapakah yang akan dipercaya untuk merealisasikannya dan bagaimana kemungkinan pencapaiannya?
Publik bersama-sama harus berusaha dan diberikan hak mengetahui bagaimana program kerja kongkret, siapa menterinya, dan apa target yang hendak dicapai dalam 100 hari pertama. Inilah bentuk kontrak sosial-politik yang penting dilakukan oleh publik atas calon Presiden dan Wakil Presiden. Apabila tidak dilakukan upaya tersebut, dipastikan kita akan kembali menjadikan Pemilu Presiden-Wakil Presiden pertama ini sebagai ajang pesta sesaat yang hanya akan menghasilkan rezim baru yang sama sekali tidak akan memberikan perbaikan nasib bangsa.
Ketiga, dapatkan informasi objektif mengenai sekeliling para kandidat. Informasi ini penting untuk membaca arah policy yang akan dikeluarkan ketika mereka terpilih nanti. Apakah yang menjadi team kandidat tersebut adalah para tikus bangsa atau yang merugikan umat? Pertanyaan ini harus diajukan karena ditangan Presiden akan dihasilkan keputusan yang menyangkut hajat hidup warga bangsa ini. Kitapun berhak mengetahui siapa, organisasi apa yang mendukung para kandidat tersebut.
Keempat, pastikan kita terlibat aktif dalam proses Pemilu ini dengan menjadi pengawas, sehingga kita dapat menemukan kandidat manakah yang banyak melakukan pelanggaran dan kandidat mana yang tidak atau lebih sedikit. Terlebih berkaitan dengan money politic, pastikan kita tidak memilih calon Presiden-Wakil Presiden yang melakukan money politic.
Semoga saja kita bukan bangsa pelupa dan pemimpi. Oleh karena itu, mari kita pilih Presiden-Wakil Presiden yang amanah agar tercipta kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Kemudian secara bersamaan kita tumbuhkan gerakan kultural yang mampu bersinergi dan mengkritisi setiap kebijakan negara demi merealisasikan mimpi-mimpi bangsa.
Merealisasikan mimpi bangsa bukanlah pekerjaan sederhana. Sehingga seluruh elemen bangsa harus bersinergi satu sama lain. Mimpi bangsa telah dicanangkan dengan jelas dalam teks-teks konstutusi dan falsafah negeri ini. Mimpi bangsa telah dipancangkan oleh para founding father bangsa, persoalannya terletak kepada political will pemerintah dan dukungan warga bangsa. Momentum pemilihan Presiden-Wakil Presiden harus dijadikan langkah perbaikan bangsa. Masihkah kita ingin menonton dagelan politik dan hukum yang bertentangan dengan rasa keadilan. Apakah kita mau mimpi indah tentang kesejahteraan itu akan sirna dengan mimpi buruk bangsa yang ada diambang kehancuran. Karenanya, sebagai sumbangsih kepada bangsa kita harus menjadi pemilih yang kritis.
Nuranilah yang harus menuntun kita menentukan pilihan politik. Bukan karena sedikit sumbangan (baca:money politic) atau keterpesonaan kita akan pribadi kandidat yang lebih banyak manipulasinya tinimbang kenyataan yang sebenarnya. Semoga Tuhan membukakan hati kita untuk memilih kandidat terbaik untuk memimpin negeri ini dan memberikan kita kekuatan memberdayakan diri dan yang lain demi masa depan bangsa yang lebih baik. Jangan terjebak dengan pesta, karena itu hanya kampulase dan peramai saja. Lampu pesta pasti menyilaukan, tapi bukan berarti kita silau dan tak tahu mana yang baik dan sekedar polesan kan? Semoga…
Graha Pena Jakarta, 1 April 2009
Selesaikan Bacanya!......
Selasa, 31 Maret 2009
Cape Euy...
Pekerjaan itu tidak pernah habis. Begitu seorang sahabat mengingatkan, ketika saya curhat, sedang cape banyak pekerjaan banget. Maklum lah, dari mulai bikin artikel, makalah kuliah, makalah presentasi seminar, berita, advertorial, konsep program dan yang lainnya semuanya harus beriringan mengantri sesuai jam dan waktu yang telah ditentukan dan sepakati.
Belum lagi jadwal rapat, meeting dengan beberapa petinggi, rapat program dengan mitra usaha, ke kampus, perjalanan jakarta-bandung, membuat saya seperti lupa diri, yen awak teh sanes robot. Begitu seorang sahabat lain mengingatkan agar kesehatan tetap dijaga.
Tapi ya itu, ari nuju resep mah, terus saja semuanya dimainkan. Bergerak dan terus bergerak. Tapi yah, di kantor untung ada mas yatmo. Di bumi juga untung ada mang agus, tukang pijit yang bikin badan nu pararegel teh rada raos. Belum lagi menu madu, antangin dan multivitamin menjadi kawan seperjuangan. Ya, termasuk, pikiran itu tetap dibuat relax, karena walau kita tertekan stress, tetap bisa menjaga diri agar selalu santai. Be enjoy friend, begitu seorang sahabat selalu mengingatkan. Kalah, salah, cape, rumit, banyak pekerjaan adalah permainan indah yang harus dinikmati dan terus dizinahi. Supaya, menjadi menang, benar, tetap segar, mudah dan terkesan pekerjaan tak banyak.
Senyum dalam perjuangan adalah kisah awal dan akhir yang tak boleh terpisah karena ada tangis di tengahnya. Senyum dan tertawa lah yang harus mendominasi walau tangis tentu tetap ada.
Cape, ya cape. Tapi begitu lah hidup. Semakin cepat mesin dan gas ini dipacu, maka anginnya pun semakin kencang menerpa kita. Jangan bayangkan di mobil, karena sesungguhnya di mobil pun, angin itu kencang menerpa. Teu karaos we, da kahalangan ku kaca mobil. Makanya mobil itu, untuk yang sport, cenderung dibuat lancip, model sedan, itu semata-mata untuk mengurangi arus lawanan angin yang akan membuat gesekan dan mengurangi kecepatan.
Apalagi para bikers, pasti karaos pisan kalau kecepatan itu semakin kencang, angin pun sanes ti payun wae, dari depan pinggir pun menggoyang.
Ini sekedar ilustrasi aja, betapa gangguan itu pasti ada. Godaan itu selalu ada. Demikian lah, dalam hidup, semuanya penuh ujian dan tantangan. Hanya tinggal kita menyikapinya.
Ketika kaya kita diuji, demikian juga sebaliknya. Di kantor, di rumah atau dalam kehidupan bermasyarakat, semuanya juga menguji dan menilai kita. Kalau ada yang menguji untuk sekedar mengetes kemampuan, ya biasa aja. Pokoknya terus aja jalan, menuju tujuan. Tong gedag kaanginan, lempes kaibunan. Terus maju pantang mundur.
Seperti menulis, menjalankan kaki melakukan aktivitas adalah rantai catatan hidup yang harus terus diukir. Jika salah, segeralah perbaiki, jika benar, terus meneruslah lakukan. Jangan puas dengan prestasi, tapi jangan kejar prestise karena yang silau prestise hanya akan menumpuk prestise untuk dijual dengan menggadaikan harga diri. Naudzubillah.
Kita makhluk merdeka. Bekerjalah, maka engkau eksis. Begitu Karl Marx mengingatkan. Berpikir lah, maka engkau ada, demikian Rene Descartes mengubah peradaban manusia dari kegelapan menjadi modern dan semakin canggih. Ini hidup, jadikan lah setiap helaan napas ini sebagai ibadah dalam peran sebagai pelayan (ábdi) dan sebagai khalifah di muka bumi. Ingat lah, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi yang lain.
Karena itu, bangun lah komunikasi dan komunitas, jadikanlah waktu sebagai patokan perjuangan. Cape hanya lah bagian dari romantika hidup. Sahabat saya bahkan bilang: "orang lain mah banyak yang nganggur, didinya mah dugi bingung ke saking banyak pekerjaan." Katanya mengingatkan.
Saya hanyalah manusia dhoif, berjalan, bergerak tiada henti untuk keluarga, umat, bangsa dan kemanusiaan. Ya Allah, jadikanlah, aku manusia bermanfaat bagi manusia lain. Amin.
Graha Pena Jakarta
31 Maret 2009
Selesaikan Bacanya!......
Belum lagi jadwal rapat, meeting dengan beberapa petinggi, rapat program dengan mitra usaha, ke kampus, perjalanan jakarta-bandung, membuat saya seperti lupa diri, yen awak teh sanes robot. Begitu seorang sahabat lain mengingatkan agar kesehatan tetap dijaga.
Tapi ya itu, ari nuju resep mah, terus saja semuanya dimainkan. Bergerak dan terus bergerak. Tapi yah, di kantor untung ada mas yatmo. Di bumi juga untung ada mang agus, tukang pijit yang bikin badan nu pararegel teh rada raos. Belum lagi menu madu, antangin dan multivitamin menjadi kawan seperjuangan. Ya, termasuk, pikiran itu tetap dibuat relax, karena walau kita tertekan stress, tetap bisa menjaga diri agar selalu santai. Be enjoy friend, begitu seorang sahabat selalu mengingatkan. Kalah, salah, cape, rumit, banyak pekerjaan adalah permainan indah yang harus dinikmati dan terus dizinahi. Supaya, menjadi menang, benar, tetap segar, mudah dan terkesan pekerjaan tak banyak.
Senyum dalam perjuangan adalah kisah awal dan akhir yang tak boleh terpisah karena ada tangis di tengahnya. Senyum dan tertawa lah yang harus mendominasi walau tangis tentu tetap ada.
Cape, ya cape. Tapi begitu lah hidup. Semakin cepat mesin dan gas ini dipacu, maka anginnya pun semakin kencang menerpa kita. Jangan bayangkan di mobil, karena sesungguhnya di mobil pun, angin itu kencang menerpa. Teu karaos we, da kahalangan ku kaca mobil. Makanya mobil itu, untuk yang sport, cenderung dibuat lancip, model sedan, itu semata-mata untuk mengurangi arus lawanan angin yang akan membuat gesekan dan mengurangi kecepatan.
Apalagi para bikers, pasti karaos pisan kalau kecepatan itu semakin kencang, angin pun sanes ti payun wae, dari depan pinggir pun menggoyang.
Ini sekedar ilustrasi aja, betapa gangguan itu pasti ada. Godaan itu selalu ada. Demikian lah, dalam hidup, semuanya penuh ujian dan tantangan. Hanya tinggal kita menyikapinya.
Ketika kaya kita diuji, demikian juga sebaliknya. Di kantor, di rumah atau dalam kehidupan bermasyarakat, semuanya juga menguji dan menilai kita. Kalau ada yang menguji untuk sekedar mengetes kemampuan, ya biasa aja. Pokoknya terus aja jalan, menuju tujuan. Tong gedag kaanginan, lempes kaibunan. Terus maju pantang mundur.
Seperti menulis, menjalankan kaki melakukan aktivitas adalah rantai catatan hidup yang harus terus diukir. Jika salah, segeralah perbaiki, jika benar, terus meneruslah lakukan. Jangan puas dengan prestasi, tapi jangan kejar prestise karena yang silau prestise hanya akan menumpuk prestise untuk dijual dengan menggadaikan harga diri. Naudzubillah.
Kita makhluk merdeka. Bekerjalah, maka engkau eksis. Begitu Karl Marx mengingatkan. Berpikir lah, maka engkau ada, demikian Rene Descartes mengubah peradaban manusia dari kegelapan menjadi modern dan semakin canggih. Ini hidup, jadikan lah setiap helaan napas ini sebagai ibadah dalam peran sebagai pelayan (ábdi) dan sebagai khalifah di muka bumi. Ingat lah, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi yang lain.
Karena itu, bangun lah komunikasi dan komunitas, jadikanlah waktu sebagai patokan perjuangan. Cape hanya lah bagian dari romantika hidup. Sahabat saya bahkan bilang: "orang lain mah banyak yang nganggur, didinya mah dugi bingung ke saking banyak pekerjaan." Katanya mengingatkan.
Saya hanyalah manusia dhoif, berjalan, bergerak tiada henti untuk keluarga, umat, bangsa dan kemanusiaan. Ya Allah, jadikanlah, aku manusia bermanfaat bagi manusia lain. Amin.
Graha Pena Jakarta
31 Maret 2009
Selesaikan Bacanya!......
Senin, 16 Maret 2009
Deadline Yeuh...
Malam semakin larut, ketika di kantor sudah menunjukkan jam 23.34 WIB. Ruang redaksi masih terus rame dengan suara kawan-kawan dan musik yang saling bersahutan. Keramaian pun masih bertahan, seperti bertahannya saya dalam kantuk yang semakin tak tertahankan. Tapi malam ini deadline bung. Hukumnya wajib ain kami melek sampai naskah yang dilayout benar-benar aman untuk dikirim ke percetakan di Tambun Bekasi. Pake teknologi serat optik, butuh satu menit saja pengiriman dari kantor Graha Pena, di daerah Permata Hijau, Jaksel sampai ke Tambun.
Walau ngantuk, usus perut terus protes meminta diisi. Ya, sudah, beruntung ada Mas Yatno, tukang pijit kami yang siaga 1 membelikan makan. Semenjak Bastian (pedagang pinggir kantor dilarang manajemen building menjual langsung makanan), membeli makanan menjadi hal mahal. Males kadang, dari lantai 9 harus turun ke bawah, makan. Lebih baik nyurun Mas Yatno beliin. Tapi ya itu, harga makanan paling Rp 8 ribu, nyuruhnya jadi Rp 18.000. Mas yatno adalah bekas Office boy di kantor kami yang sudah pensiun. Demi bertahan hidup, hampir tiap malam dia datang ke kantor. Sekedar memijit kawan-kawan atau disuruh-suruh kami membeli makan. Dia selalu siaga 1 untuk kami dan karena itu lah kerjaan sebanyak apapun selalu terbantu Mas Yatno yang sepintas nggak ada fungsinya.
Tapi, kalau kita ingat setiap orang ada fungsi penting dalam kehidupan kita, niscaya kita berusaha memelihara hubungan dan terus mengembangkan jaringan. Saya membayangkan kalau Mas Yatno, atau staf saya termasuk Mas Indra (OB kami) yang bertugas dari jam 7 pagi ampe jam 8 malam tak ada, banyak kebutuhan kami yang akan terganggu.
Ini lah hidup, yang di atas nggak ada jika tak ada yang di bawah. Tak ada bos kalau tak ada staf, tak ada jenderal tanpa kopral. Kalau sinergi tercipta, saling mengisi, menghormati dan tau diri, ya Allah, harmonis lah hidup ini ya.
Tapi, demikian lah, selain menciptkan malaikat yang setiap saat mengabdi, Tuhan pun menciptakan iblis yang setiap saat mengganggu manusia karena demikianlah janjinya kepada Tuhan. Nah, manusia pun diciptakan. Tugasnya jelas menjadi khalifah dan abdi Allah. Karena peran itu lah, kebudayaan berkembang, semuanya berkembang, menjadi peradaban dan kemajuan manusia.
Sebagai lingkar kecil dan lingkar besar kehidupan, mas Yatno, staf di kantor, Indra, dan yang lainnya, termasuk selembar rambut saya juga, adalah bagian dari hidup yang harus dilayani dan dijaga, dirawat dan disayangi. Hidup kita adalah satu sistem, demikian juga dunia ini seperti butterfly effect, hidup adalah kesatuan. Ini beda dengan manusia yang berpikir hidup untuk dirinya sendiri, dunia miliknya sendiri, yang lain hanya ngontrak saja.
Kembali ke soal deadline, saya jadi ingat, hidup kita juga mengenal deadline, waktu shalat ada deadlinenya, demikian juga jatah hidup. Awas ah lewat deadline, kalau saya di kantor, lewat deadline, big boss marah karena orang percetakan ngasih laporan, kiriman ke percerakan dari kantor telat, ya selain dimarahi, hukuman lainnya bisa berupa pengurangan bonus. Yang jelas deadline jangan dilanggar. Karena tidak baik, akan membuat kita sengsara bung.
Graha Pena Jawa Pos Jakarta,
Salam Hangat,
Iu Rusliana
Selesaikan Bacanya!......
Walau ngantuk, usus perut terus protes meminta diisi. Ya, sudah, beruntung ada Mas Yatno, tukang pijit kami yang siaga 1 membelikan makan. Semenjak Bastian (pedagang pinggir kantor dilarang manajemen building menjual langsung makanan), membeli makanan menjadi hal mahal. Males kadang, dari lantai 9 harus turun ke bawah, makan. Lebih baik nyurun Mas Yatno beliin. Tapi ya itu, harga makanan paling Rp 8 ribu, nyuruhnya jadi Rp 18.000. Mas yatno adalah bekas Office boy di kantor kami yang sudah pensiun. Demi bertahan hidup, hampir tiap malam dia datang ke kantor. Sekedar memijit kawan-kawan atau disuruh-suruh kami membeli makan. Dia selalu siaga 1 untuk kami dan karena itu lah kerjaan sebanyak apapun selalu terbantu Mas Yatno yang sepintas nggak ada fungsinya.
Tapi, kalau kita ingat setiap orang ada fungsi penting dalam kehidupan kita, niscaya kita berusaha memelihara hubungan dan terus mengembangkan jaringan. Saya membayangkan kalau Mas Yatno, atau staf saya termasuk Mas Indra (OB kami) yang bertugas dari jam 7 pagi ampe jam 8 malam tak ada, banyak kebutuhan kami yang akan terganggu.
Ini lah hidup, yang di atas nggak ada jika tak ada yang di bawah. Tak ada bos kalau tak ada staf, tak ada jenderal tanpa kopral. Kalau sinergi tercipta, saling mengisi, menghormati dan tau diri, ya Allah, harmonis lah hidup ini ya.
Tapi, demikian lah, selain menciptkan malaikat yang setiap saat mengabdi, Tuhan pun menciptakan iblis yang setiap saat mengganggu manusia karena demikianlah janjinya kepada Tuhan. Nah, manusia pun diciptakan. Tugasnya jelas menjadi khalifah dan abdi Allah. Karena peran itu lah, kebudayaan berkembang, semuanya berkembang, menjadi peradaban dan kemajuan manusia.
Sebagai lingkar kecil dan lingkar besar kehidupan, mas Yatno, staf di kantor, Indra, dan yang lainnya, termasuk selembar rambut saya juga, adalah bagian dari hidup yang harus dilayani dan dijaga, dirawat dan disayangi. Hidup kita adalah satu sistem, demikian juga dunia ini seperti butterfly effect, hidup adalah kesatuan. Ini beda dengan manusia yang berpikir hidup untuk dirinya sendiri, dunia miliknya sendiri, yang lain hanya ngontrak saja.
Kembali ke soal deadline, saya jadi ingat, hidup kita juga mengenal deadline, waktu shalat ada deadlinenya, demikian juga jatah hidup. Awas ah lewat deadline, kalau saya di kantor, lewat deadline, big boss marah karena orang percetakan ngasih laporan, kiriman ke percerakan dari kantor telat, ya selain dimarahi, hukuman lainnya bisa berupa pengurangan bonus. Yang jelas deadline jangan dilanggar. Karena tidak baik, akan membuat kita sengsara bung.
Graha Pena Jawa Pos Jakarta,
Salam Hangat,
Iu Rusliana
Selesaikan Bacanya!......
Senin, 02 Maret 2009
Gagal? Jangan Sedih, Anggaplah Permainan...
Tidak ada kata gagal dalam hidup ini. Yang ada adalah sukses tertunda. Jadi, jika kita menginginkan, merencanakan suatu hal, hasilnya tidak maksimal, atau tidak tercapai, ya jangan sedih dong, anggap saja permainan. Hidup adalah proses panjang seperti, jatuh bangun dan harus selalu dinikmati, diterima apa adanya ketika usaha maksimal telah dilakukan.
Teruslah mencoba dan mencoba. Jangan menyerah kalah, terus lah berusaha. Seribu kali mencoba, tapi belum tercapai apa yang diinginkan bukan berarti gagal loh. Tak usah minder, apalagi putus asa. Semuanya butuh proses dan jangan pernah merasa gagal.
Merasa gagal, putus asa, menyerah sebelum bertanding adalah sikap mental yang harus dijauhi. Itu penyakit gagal yang ada dalam diri kita. Jauhi lah, karena selain tidak disukai oleh sahabat, saudara, keluarga, juga sesungguhnya tidak disukai oleh mereka yang punya sikap mental yang kuat, tangguh, pejuang sejati.
Penyakit itu sangat tidak disukai karena hanya membuat musibah itu datang terus menerus. Karena itu, bagi Anda yang saat ini masih menganggur, terus menerus lah berusaha. Tingkatkan keterampilan, terus mengajukan lamaran, terus bertanya dan mencari informasi, terus dan terus berusaha.
Kesabaran kita mengikuti semua proses adalah modal utama. Sikap minder, jauhilah. Ini soal proses yang harus dilalui. Ini lah permainan hidup yang harus dijalani. Mainkanlah dengan gairah, rasa bahagia dan minat yang besar, maka kesuksesan pun akan menjemput kita.
Dalam permainan, kadang ada kalah dan menang. Jadi biasa saja tuh kalau kalah. Menang tidak berarti kita menjadi sombong, apalagi lupa diri. Karena akan tiba saatnya kekalahan itu menghampiri. Tersenyumlah saat kalah, tersenyum pula lah ketika menang.
Masih banyak permainan, masih ada saat menang. Coba, ingatlah selalu saat kita menang. Ingat, syukuri dan rayakan selalu kemenangan itu. Dan hapuskan lah kesedihan ketika kalah dengan rasa syukur dan bahagia saat menang dan mengenang kemenangan itu. Tumbuhkan kekuatan terus untuk menang kembali dan bangkit.
Ingatlah, kemenangan kita ditunggu banyak orang. Ditunggu oleh mereka yang selama ini selalu dibantu, disantuni dan dikasihi kita. Jadi, jangan biarkan kesedihan ketika kalah itu menghantui kita terus hingga kita melupakan bahwa lebih banyak menangnya dibandingkan kalahnya.
Atau bila pun kini kita merasa, kalah terus menerus. Ingat lah, ada satu atau dua kali kita menang. Kuatkan memori bahagia itu dan bangkitkan semangat untuk menang. Bukan untuk kemenangan diri kita semata, tapi untuk kemenangan bagi banyak orang. Jangan sedih menganggur karena tidak punya penghasilan dan jauh dari kesejahteraan. Tapi sedihlah kita menganggur karena ada banyak anak yatim dan keluarga tidak mampu yang menunggu uluran tangan kita. Karena itu, kita harus terus bekerja dan bekerja. Seperti yang selalu disampaikan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno, pokoknya harus kerja (PHK). Percayalah, kekalahan dan kemenangan hanya soal waktu dan kesiapan menerimanya.
Rasa menang dan kalah adalah persepsi. Penerimaan akan kondisi diri dan mengukur kemampuan menjadi penting. Karena pada saat kalah, jangan-jangan target yang ditetapkan sangat tinggi, padahal ukuran normalnya tidak memungkinkan untuk mencapai target itu.
Kemampuan normal kita hanya 50, rasional kalau kita tetapkan target 70, tapi ajaib jika mampu mencapai 90 atau 100. Jadi, jika kita tetapkan targetkan 80 atau 90, jangan-jangan kita memang belum saatnya untuk mencapai target 80.
Kok yang lain bisa? Padahal mereka dinilai di bawah kita. Di sinilah diperlukan sikap menghormati dan apresiatif terhadap kemampuan orang lain, hatta orang itu sepintas sepertinya tidak ada apa-apanya. Menyepelekan orang lain dan menginginkan dihormati dan dilayani adalah fakta bahwa diri kita tak punya harga diri. Sebaliknya, sikap rendah hati dan selalu siap melayani menunjukkan kita adalah pribadi yang unggul, punya harga diri tinggi.
Hormati lah orang sekeliling dan pastikan mereka terlayani dan diambil energi positifnya. Dengan demikian, kapasitas kita akan meningkat dan terus meningkat. Karena dalam diri kita terkumpul kapasitas banyak orang. Ini lah pentingnya menjaga hubungan baik dengan semua orang atau dalam Islam disebut silaturrahmi. Ada hal-hal yang kita sendiri tak mampu, orang lain mampu dan ketika kebutuhan dan tuntutan itu tiba, kita tetap bisa mengatasinya.
Evaluasilah kemampuan kita dan teruslah meningkatkan kapasitas kita. Karena dengan demikian kita akan tahu, kemampuan kita yang sesungguhnya dan menetapkan target dengan rasional.
Jadi, jangan iri jika saudara kita atau kawan ada yang lebih hebat padahal usianya, pendidikan atau apanya orang itu di bawah kita. Justru ambillah energi positifnya. Jika saat ini saudara kita sudah bekerja dengan enak, gajinya besar, jangan minder dan menjauhinya. Belajar lah dan minta tolonglah kepada orang itu, siapa tahu, berkat pertolongan, informasi orang itu, kita bisa cepat mendapatkan pekerjaan.
Dengan demikian, jagalah hubungan baik dengan semua orang. Jangan segan dan merasa rendah diri jika harus meminta maaf ketika ada kesalahan walau pun kepada staf atau saudara yang usianya di bawah kita sekalipun.
Jangan pernah kurangi energi kemenangan kita dengan bersikap arogan, sombong dan tidak menghormati orang lain. Justru kumpulkan lah energi kemenangan kita berlipat ganda.
Melipatgandakan kekuatan hanya mungkin dengan memelihara hubungan dan kebaikan dengan banyak orang. Mereka yang terus menerus menang dalam kehidupannya karena selalu mampu melipatgandakan kekuatan dengan melibatkan partisipasi besar dari banyak orang karena kebaikannya kepada orang banyak.
Jadi, evaluasilah, jangan-jangan kita kalah karena tidak banyak orang yang melibatkan dirinya dalam proyek hidup kita. Karena hanya kita saja yang bermain dan akhirnya kekalahan terus menerus diderita. Satu orang musuh sangat banyak, seribu orang kawan sangat sedikit.
Berpikir lah positif, bahwa kemenangan akan segera datang. Berpikirlah kritis, jangan-jangan, tidak banyak orang yang mau berpartisipasi dalam permainan kita, akhirnya kemenangan sulit diraih. Satukanlah kekuatan, untai dan rajutlah kekuatan bersama banyak orang. Tersenyumlah bersama dan raihlah kemenangan terus menerus. Semoga. Selesaikan Bacanya!......
Teruslah mencoba dan mencoba. Jangan menyerah kalah, terus lah berusaha. Seribu kali mencoba, tapi belum tercapai apa yang diinginkan bukan berarti gagal loh. Tak usah minder, apalagi putus asa. Semuanya butuh proses dan jangan pernah merasa gagal.
Merasa gagal, putus asa, menyerah sebelum bertanding adalah sikap mental yang harus dijauhi. Itu penyakit gagal yang ada dalam diri kita. Jauhi lah, karena selain tidak disukai oleh sahabat, saudara, keluarga, juga sesungguhnya tidak disukai oleh mereka yang punya sikap mental yang kuat, tangguh, pejuang sejati.
Penyakit itu sangat tidak disukai karena hanya membuat musibah itu datang terus menerus. Karena itu, bagi Anda yang saat ini masih menganggur, terus menerus lah berusaha. Tingkatkan keterampilan, terus mengajukan lamaran, terus bertanya dan mencari informasi, terus dan terus berusaha.
Kesabaran kita mengikuti semua proses adalah modal utama. Sikap minder, jauhilah. Ini soal proses yang harus dilalui. Ini lah permainan hidup yang harus dijalani. Mainkanlah dengan gairah, rasa bahagia dan minat yang besar, maka kesuksesan pun akan menjemput kita.
Dalam permainan, kadang ada kalah dan menang. Jadi biasa saja tuh kalau kalah. Menang tidak berarti kita menjadi sombong, apalagi lupa diri. Karena akan tiba saatnya kekalahan itu menghampiri. Tersenyumlah saat kalah, tersenyum pula lah ketika menang.
Masih banyak permainan, masih ada saat menang. Coba, ingatlah selalu saat kita menang. Ingat, syukuri dan rayakan selalu kemenangan itu. Dan hapuskan lah kesedihan ketika kalah dengan rasa syukur dan bahagia saat menang dan mengenang kemenangan itu. Tumbuhkan kekuatan terus untuk menang kembali dan bangkit.
Ingatlah, kemenangan kita ditunggu banyak orang. Ditunggu oleh mereka yang selama ini selalu dibantu, disantuni dan dikasihi kita. Jadi, jangan biarkan kesedihan ketika kalah itu menghantui kita terus hingga kita melupakan bahwa lebih banyak menangnya dibandingkan kalahnya.
Atau bila pun kini kita merasa, kalah terus menerus. Ingat lah, ada satu atau dua kali kita menang. Kuatkan memori bahagia itu dan bangkitkan semangat untuk menang. Bukan untuk kemenangan diri kita semata, tapi untuk kemenangan bagi banyak orang. Jangan sedih menganggur karena tidak punya penghasilan dan jauh dari kesejahteraan. Tapi sedihlah kita menganggur karena ada banyak anak yatim dan keluarga tidak mampu yang menunggu uluran tangan kita. Karena itu, kita harus terus bekerja dan bekerja. Seperti yang selalu disampaikan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno, pokoknya harus kerja (PHK). Percayalah, kekalahan dan kemenangan hanya soal waktu dan kesiapan menerimanya.
Rasa menang dan kalah adalah persepsi. Penerimaan akan kondisi diri dan mengukur kemampuan menjadi penting. Karena pada saat kalah, jangan-jangan target yang ditetapkan sangat tinggi, padahal ukuran normalnya tidak memungkinkan untuk mencapai target itu.
Kemampuan normal kita hanya 50, rasional kalau kita tetapkan target 70, tapi ajaib jika mampu mencapai 90 atau 100. Jadi, jika kita tetapkan targetkan 80 atau 90, jangan-jangan kita memang belum saatnya untuk mencapai target 80.
Kok yang lain bisa? Padahal mereka dinilai di bawah kita. Di sinilah diperlukan sikap menghormati dan apresiatif terhadap kemampuan orang lain, hatta orang itu sepintas sepertinya tidak ada apa-apanya. Menyepelekan orang lain dan menginginkan dihormati dan dilayani adalah fakta bahwa diri kita tak punya harga diri. Sebaliknya, sikap rendah hati dan selalu siap melayani menunjukkan kita adalah pribadi yang unggul, punya harga diri tinggi.
Hormati lah orang sekeliling dan pastikan mereka terlayani dan diambil energi positifnya. Dengan demikian, kapasitas kita akan meningkat dan terus meningkat. Karena dalam diri kita terkumpul kapasitas banyak orang. Ini lah pentingnya menjaga hubungan baik dengan semua orang atau dalam Islam disebut silaturrahmi. Ada hal-hal yang kita sendiri tak mampu, orang lain mampu dan ketika kebutuhan dan tuntutan itu tiba, kita tetap bisa mengatasinya.
Evaluasilah kemampuan kita dan teruslah meningkatkan kapasitas kita. Karena dengan demikian kita akan tahu, kemampuan kita yang sesungguhnya dan menetapkan target dengan rasional.
Jadi, jangan iri jika saudara kita atau kawan ada yang lebih hebat padahal usianya, pendidikan atau apanya orang itu di bawah kita. Justru ambillah energi positifnya. Jika saat ini saudara kita sudah bekerja dengan enak, gajinya besar, jangan minder dan menjauhinya. Belajar lah dan minta tolonglah kepada orang itu, siapa tahu, berkat pertolongan, informasi orang itu, kita bisa cepat mendapatkan pekerjaan.
Dengan demikian, jagalah hubungan baik dengan semua orang. Jangan segan dan merasa rendah diri jika harus meminta maaf ketika ada kesalahan walau pun kepada staf atau saudara yang usianya di bawah kita sekalipun.
Jangan pernah kurangi energi kemenangan kita dengan bersikap arogan, sombong dan tidak menghormati orang lain. Justru kumpulkan lah energi kemenangan kita berlipat ganda.
Melipatgandakan kekuatan hanya mungkin dengan memelihara hubungan dan kebaikan dengan banyak orang. Mereka yang terus menerus menang dalam kehidupannya karena selalu mampu melipatgandakan kekuatan dengan melibatkan partisipasi besar dari banyak orang karena kebaikannya kepada orang banyak.
Jadi, evaluasilah, jangan-jangan kita kalah karena tidak banyak orang yang melibatkan dirinya dalam proyek hidup kita. Karena hanya kita saja yang bermain dan akhirnya kekalahan terus menerus diderita. Satu orang musuh sangat banyak, seribu orang kawan sangat sedikit.
Berpikir lah positif, bahwa kemenangan akan segera datang. Berpikirlah kritis, jangan-jangan, tidak banyak orang yang mau berpartisipasi dalam permainan kita, akhirnya kemenangan sulit diraih. Satukanlah kekuatan, untai dan rajutlah kekuatan bersama banyak orang. Tersenyumlah bersama dan raihlah kemenangan terus menerus. Semoga. Selesaikan Bacanya!......
Pengelola
- Iu Rusliana
- Pewarta di Jawa Pos Group, staf pengajar filsafat di UIN Bandung, dan Aktivis di Muhammadiyah. Asli urang Sukabumi dan menyelesaikan studi S2 Ekonomi Syariah di Universitas Indonesia (UI) tahun 2010. Alumni Jurusan Aqidah Filsafat UIN Bandung ini yakin bahwa berbagi kasih adalah misi suci setiap agama di muka bumi. Berbagi tidak mengurangi milik kita, tapi akan menambahkannya, sebagaimana janji-Nya.